Harga Sebuah Kebohongan (2): Tokoh Jahat yang Tak Pernah Memilih
ilustrasi sejuta kisah rumah tangga saat pergi.--
Pagi belum benar-benar terang ketika ponsel Ilham terus berbunyi. "Mas... videonya tembus sejuta!" Sinta yang baru bangun langsung duduk di samping suaminya. Layar ponsel dipenuhi notifikasi.
Jumlah pengikut bertambah ribuan. Kolom komentar bergerak begitu cepat hingga sulit dibaca. "Kasihan Ilham." "Orang seperti Epu memang nggak tahu diri.". "Pantas diusir.". Ilham tersenyum puas. "Aku bilang juga apa... orang suka drama.".
Sinta ikut melihat layar. Namun entah mengapa, ia justru merasa dadanya sesak. Tak satu pun dari orang-orang itu mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Mereka hanya percaya pada gambar yang dilihat mata. Tanpa pernah bertanya apakah semuanya benar. Di dapur, Epu sedang membuat teh.
Ia baru mengetahui dirinya menjadi bahan pembicaraan ketika seorang teman mengirimkan tautan video. Pelan-pelan ia menontonnya. Dari awal. Sampai akhir. Sesekali ia menggeleng kecil. Bukan karena marah.
Melainkan karena tak percaya dua orang yang selama ini dianggap keluarga tega menjadikannya tokoh utama dalam sebuah kebohongan. Menjelang siang ia keluar membeli makan. Beberapa orang mulai memandangnya dengan tatapan aneh.
BACA JUGA:Harga Sebuah Kebohongan (1): Uang Mengubah Seseorang Memandang Benar dan Salah

Gempur Rokok Illegal--
Ada yang berbisik. Ada yang menunjuk. Seorang anak muda bahkan sempat berkata keras kepada temannya. "Itu dia orang yang viral itu.". Epu mempercepat langkah. Baru kali itu ia merasakan betapa beratnya menjadi orang yang dihakimi tanpa pernah diberi kesempatan menjelaskan.
Sementara di rumah, telepon Ilham tak berhenti berdering. Beberapa produk menawarkan kerja sama. Nominalnya jauh lebih besar dibanding biasanya. "Mas... kita berhasil.". Ilham tertawa lebar. Namun Sinta tidak ikut tertawa.
Bayangan wajah Epu terus muncul di pelupuk matanya. Malam harinya, Epu pulang lebih lambat dari biasanya. Ia langsung masuk kamar. Tak ada suara. Tak ada protes. Tak ada kemarahan. Justru sikap diam itu membuat Sinta semakin gelisah.
Menjelang tengah malam terdengar suara pintu kamar dibuka. Sinta yang belum tidur melihat Epu keluar sambil membawa sebuah tas ransel. "Epu...". Pemuda itu berhenti. "Mau ke mana?". Epu tersenyum tipis. "Saya pergi, Mbak."
BACA JUGA:Suamiku Tergoda Janda Kaya (6): Penyesalan Terlambat dan Karma Sang Lelaki Kufur
"Pergi?". "Iya.". "Supaya cerita yang Mas Ilham buat benar-benar terlihat nyata.". Sinta tercekat. "Jangan begitu...". Epu menggeleng pelan. "Aku bisa menerima hidup susah.". "Aku juga bisa menerima kalau belum berhasil.". "Tapi aku tidak sanggup hidup sebagai orang jahat... atas kesalahan yang tidak pernah kulakukan.". Air mata Sinta mengalir tanpa mampu ditahan. "Epu... maafkan kami."
Pemuda itu mengangguk pelan. "Aku sudah memaafkan." "Tapi tolong..." "Jangan pernah jadikan orang lain sebagai korban... hanya demi membuat banyak orang percaya." Pintu rumah tertutup perlahan. Suara langkah kaki Epu semakin jauh.
Sementara di dalam rumah, Sinta terduduk lemas. Baru kali itu ia sadar...viral ternyata bisa mendatangkan uang. Tetapi dalam waktu yang sama...ia juga mampu merenggut seseorang dari keluarganya.
Dan di kamar, Ilham masih tersenyum memandangi angka penonton yang terus bertambah. Ia belum tahu...malam itu adalah awal dari kehancuran yang diam-diam sedang berjalan menuju hidupnya. (atp/fer/bersambung)
Sumber:





