Dokter Universitas Petra Soroti Risiko Penyakit Menular pada Pasangan LGBTQ
Ilustrasi penikmat konten bermuatan Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, dan Queer (LGBTQ) yang kian menjamur di media sosial.--
SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Fenomena Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, dan Queer (LGBTQ) kembali menjadi sorotan publik setelah pemerintah memasukkan penyebaran budaya LGBTQ sebagai salah satu contoh ancaman nonmiliter dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 111 Tahun 2025 tentang Kebijakan Umum Pertahanan Negara Tahun 2025–2029.
Terlebih saat ini kian menjamur konten bermuatan LGBTQ yang ditemukan di media sosial. Bahkan, diketahui grup atau komunitas mereka ditemukan dengan mudah.
BACA JUGA:Perpres Cantumkan LGBT sebagai Ancaman Nonmiliter, Ini Landasan Hukumnya
Atas hal itu, kalangan medis mengingatkan pentingnya melihat isu tersebut dari perspektif kesehatan masyarakat, khususnya terkait risiko infeksi menular seksual (IMS) dan HIV/AIDS.
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Kristen (UK) Petra, dr. Sandy Irwanto, Sp.OG., FAUGICOG., FCGSM., menjelaskan bahwa individu yang melakukan hubungan seksual sesama jenis, terutama kelompok laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (MSM), memiliki risiko lebih tinggi terhadap sejumlah penyakit infeksi menular seksual.
BACA JUGA:MUI Jatim Dorong Perkuat Edukasi dan Regulasi Antisipasi Penyebaran Budaya LGBTQ
"Beberapa penyakit yang paling sering ditemukan antara lain HIV, sifilis, gonore, klamidia, hepatitis B dan C, serta infeksi Human Papillomavirus (HPV). Risiko ini dipengaruhi oleh faktor biologis, perilaku seksual, hingga akses terhadap layanan kesehatan," ujar dr Sandy.
Menurutnya, HIV dan sifilis menjadi dua penyakit yang kerap ditemukan secara bersamaan pada kelompok MSM. Selain itu, gonore dan klamidia juga memiliki angka kejadian yang cukup tinggi, terutama karena dapat menginfeksi area rektum dan tenggorokan tanpa menimbulkan gejala yang jelas.

Gempur Rokok Illegal--
"Banyak kasus gonore dan klamidia bersifat asimtomatik sehingga sering tidak terdeteksi. Karena itu pemeriksaan kesehatan secara berkala menjadi sangat penting," tuturnya.
Perilaku Seksual Jadi Faktor Utama
Menurut dr Sandy, risiko penularan penyakit menular seksual tidak ditentukan oleh orientasi seksual seseorang, melainkan lebih dipengaruhi oleh perilaku seksual yang dilakukan.
Faktor-faktor seperti banyaknya pasangan seksual, penggunaan kondom yang tidak konsisten, praktik hubungan seksual anal tanpa pengaman, hingga penggunaan alkohol atau narkotika sebelum berhubungan seksual dinilai berkontribusi besar terhadap peningkatan risiko penularan.
Sumber:






