Rompi Oranye Akhiri Sebuah Kekuasaan
A. Nawawi Maksum, Pengasuh PP Nurut Taqwa, Bondowoso--
Dalam lakon pewayangan, kita mengenal Duryudana. Ia adalah simbol kekuasaan yang merasa jagat adalah miliknya sebuah kepercayaan diri yang luar biasa, hingga ia lupa bahwa ia sedang duduk di atas bom waktu yang sumbunya mulai berasap. Sejarah, seperti juga kehidupan, memang punya selera humor yang gelap; ia gemar sekali menjatuhkan mereka yang merasa paling aman di kursi empuknya.

Gempur Rokok Illegal--
Kisah "Duryudana modern" ini seolah menjadi pemandangan rutin di gedung-gedung penegak hukum kita. Hari ini mungkin Bupati Sukoharjo yang harus menanggalkan baju dinasnya, namun besok entah siapa lagi gilirannya bisa saja tiba. Kursi singgasana yang biasanya nyaman, tiba-tiba bertransformasi menjadi kursi kayu di ruang pemeriksaan yang dingin. Kostum dinas yang rapi jali pun berganti rupa menjadi rompi oranye yang warnanya "ngejreng"; sangat kontras dengan lampu kilat kamera wartawan yang seolah sedang memotret model di sebuah fashion show yang gagal total.
BACA JUGA:Kenyang dalam Dusta
Mengapa kekuasaan sering kali berakhir dengan cara yang begitu sunyi, atau bahkan tragis? Barangkali, ia bermula dari kalkulasi di kepala. Banyak yang "investasi" gila-gilaan saat kampanye. Begitu menang, mindset pun bergeser: kekuasaan bukan lagi tentang pengabdian, melainkan tentang bagaimana menarik kembali modal yang sudah terlanjur menguap.
Di sini, saya teringat ucapan Abdullah bin Mubarak yang sangat menohok: Rubba 'amalin shoghirin tu'adz-zhimuhu an-niyyah, wa rubba 'amalin kabirin tushog-ghiruhu an-niyyah. Bahwa betapa banyak amal kecil menjadi besar karena niatnya, dan betapa banyak amal besar menjadi kecil dan nista karena niatnya yang bengkok. Sebuah jabatan tinggi, jika niatnya sejak awal sudah keruh untuk menumpuk harta, maka di mata sejarah, ia akan menyusut menjadi debu yang memalukan.
Lalu, ada satu fragmen yang terasa satir sekaligus renyah: nasib sang bawahan yang kebetulan lolos.
BACA JUGA:Di Balik Sunyi Ruang Kelas
Jika pejabat adalah pemeran utama yang harus menanggung beban panggung, selalu ada sosok di sekitarnya yang tampil sebagai figuran mujur. Ia keluar dari gedung dengan kemeja biasa, topi, dan ransel di pundak. Gayanya santai sekali, seolah baru saja menyelesaikan jam lembur yang membosankan. Ia melangkah keluar menghirup udara malam yang bebas, sementara di dalam sana, sang atasan mungkin sedang menatap dinding rutan dan bertanya-tanya, bagaimana mungkin skenario politik yang disusun begitu rapi, tiba-tiba berakhir di sini.
Ada ironi yang puitis di sana. Dua orang yang datang dalam satu gerbong, tiba-tiba harus berpisah jalan di pintu keluar. Yang satu harus menetap, yang satu lagi pulang untuk menikmati teh hangat di rumah, mungkin sambil bergumam, "Alhamdulillah, lolos dari drama sinetron dini hari."
​BACA JUGA:Jejak Sunyi di Sungai Katingan
Dunia memang panggung sandiwara yang absurd. Kekuasaan itu hanyalah embun di pucuk daun; ia berkilau saat fajar, namun hilang tak berbekas begitu matahari hukum menyengat. Jabatan bukan takhta yang abadi, melainkan hanya secarik kertas titipan.
Pada akhirnya, jabatan hanyalah peran. Jangan sampai ketika tirai ditutup, kita tidak meninggalkan karya, melainkan hanya mewariskan aib bagi anak-cucu, sembari kita sendiri terjebak dalam penyesalan yang tidak punya pintu keluar. Dan di atas segalanya, rompi oranye itu harus diakui adalah busana yang sama sekali tidak modis untuk siapa pun.
~ A. Nawawi Maksum ~
Sumber:






