iklan bhayangkara2
Pildun Banner

Curhat Dosen ASN di MK, Pulang Mengajar Jualan Bubur hingga Baju Anak Demi Bertahan Hidup

Curhat Dosen ASN di MK, Pulang Mengajar Jualan Bubur hingga Baju Anak Demi Bertahan Hidup

Dosen ASN Imam Akhmad menyampaikan kesaksian soal kesejahteraan dosen dalam sidang Mahkamah Konstitusi.-Istimewa-

JAKARTA, MEMORANDUM.DISWAY.ID – Dosen Aparatur Sipil Negara (ASN) Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, Imam Akhmad, mengungkap perjuangan hidupnya yang harus mencari penghasilan tambahan dengan berjualan demi memenuhi kebutuhan keluarga, Senin 6 Juli 2026.

Di balik profesinya sebagai dosen, Imam mengaku gaji yang diterimanya belum mampu mencukupi biaya hidup. Selain mengajar mata kuliah Bahasa Indonesia di Program Studi Televisi dan Film ISBI Bandung, ia harus bekerja sampingan bersama istrinya.

BACA JUGA:Prabowo Lantik Adies Kadir Jadi Hakim Mahkamah Konstitusi

Kesaksian tersebut disampaikan Imam saat menjadi saksi dalam sidang uji materi Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen di Mahkamah Konstitusi (MK). Dalam sidang yang disiarkan melalui kanal YouTube MK, ia menceritakan kondisi yang dialaminya sebagai dosen ASN.

Setiap Minggu pagi, ketika sebagian orang menikmati car free day (CFD), Imam dan istrinya justru membuka lapak untuk berjualan bubur bayi dan pakaian anak.

"Saya dan rekan-rekan saya akhirnya bekerja sambilan. Saya di Car Free Day berjualan dengan istri saya, berjualan bubur bayi, berjualan baju anak. Saya beli online saya jual lagi offline demi menghidupi saya. Saya tidak malu sebagai dosen tetap berjualan," ujar Imam.

Menurutnya, penghasilan sebagai dosen tidak cukup untuk membayar kontrakan, memenuhi kebutuhan anak, hingga biaya hidup sehari-hari. Karena itu, ia harus membagi waktu antara mengajar, meneliti, dan bekerja sampingan.

Imam juga mengungkapkan kondisi serupa dialami sejumlah rekannya. Ada dosen yang menjadi pengemudi ojek online setelah mengajar, bahkan ada yang tetap bekerja sebagai kuli bangunan demi mencukupi kebutuhan keluarga.

"Rekan saya, Tedi, dosen di Politeknik Negeri Bandung, selesai mengajar dia ngojek. Rekan saya di Kalimantan selain menjadi dosen juga tetap menjadi kuli bangunan," tuturnya.

Kesibukan mencari tambahan penghasilan bahkan membuat Imam kerap tidak bisa melayani mahasiswa di luar jam kerja.

Ia mengaku beberapa kali menolak permintaan bimbingan skripsi karena sedang bekerja di luar kampus. Namun, kondisi tersebut tidak pernah ia ceritakan kepada mahasiswanya demi menjaga martabat profesi dosen.


Gempur Rokok Illegal--

"Mahasiswa sering WA saya di luar jam kerja untuk bimbingan, terkadang saya tolak karena saya sedang bekerja di luar. Saya tidak ceritakan kepada mahasiswa saya karena saya ingin menjaga juga marwah seorang dosen," katanya.

Selain itu, Imam menyebut banyak dosen yang terpaksa mengajar di beberapa perguruan tinggi sekaligus demi memperoleh penghasilan tambahan.

Sumber: