Usaha Produksi Batik Masyarakat Bunulrejo Kota Malang
Aurellia Geovantoro, Gita Nazwa Ameliya, Novisa Rima Amelia.--
Oleh:
Aurellia Geovantoro, Gita Nazwa Ameliya, Novisa Rima Amelia
(Mahasiswa Sosiologi, FISIP, Universitas Muhammadiyah Malang)
PERKEMBANGAN masyarakat industri telah membawa perubahan besar dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya di Indonesia. Modernisasi, kemajuan teknologi, serta meningkatnya persaingan ekonomi mendorong berbagai sektor untuk terus beradaptasi dengan tuntutan zaman.
Di tengah kondisi tersebut, budaya lokal menghadapi tantangan karena harus bersaing dengan produk modern yang diproduksi secara massal. Namun, budaya tidak selalu menjadi korban modernisasi. Melalui pengelolaan yang tepat, budaya justru dapat menjadi sumber daya ekonomi yang bernilai tinggi sekaligus berkelanjutan.
Batik merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang mampu bertahan di tengah perubahan zaman karena memiliki nilai estetika, sejarah, filosofi, serta identitas budaya daerah. Nilai-nilai tersebut menjadikan batik tidak hanya sebagai produk sandang, tetapi juga sebagai representasi kekayaan budaya bangsa.
Salah satu pelaku usaha yang berupaya mempertahankan budaya sekaligus beradaptasi dengan perkembangan industri adalah Batik Niati di Kota Malang. UMKM batik khas Malangan ini didirikan oleh Kusniati pada 2020 setelah mengikuti berbagai pelatihan membatik.
Batik Niati mengangkat identitas budaya Malang melalui beragam motif, seperti Topeng Malang, bunga teratai, ikon daerah, serta unsur budaya lokal lainnya. Setiap motif tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga menjadi media untuk memperkenalkan sejarah, budaya, dan identitas Kota Malang kepada masyarakat.
Berdasarkan hasil penelitian lapangan, Batik Niati menerapkan sistem produksi yang fleksibel dengan tetap mempertahankan teknik batik tulis menggunakan canting. Sementara itu, pesanan dalam jumlah besar diproduksi menggunakan teknik cetak untuk meningkatkan efisiensi tanpa mengabaikan kualitas produk.
Sebelum memasuki tahap produksi massal, pemilik terlebih dahulu membuat satu produk sampel sebagai acuan. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kesesuaian warna, motif, ukuran, dan kualitas sehingga kepuasan pelanggan tetap terjaga.
Keberadaan Batik Niati memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja dan meningkatnya aktivitas ekonomi kreatif. Selain itu, upaya pelestarian budaya juga dilakukan melalui berbagai pelatihan dan workshop membatik yang memberikan kesempatan kepada masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mempelajari proses membatik sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya lokal.
Dalam upaya memperluas jangkauan pasar, Batik Niati juga memanfaatkan media digital serta melakukan inovasi produk agar budaya lokal dapat diperkenalkan dengan cara yang lebih menarik dan sesuai dengan perkembangan zaman.
Meski demikian, sebagai UMKM berbasis budaya, Batik Niati masih menghadapi sejumlah tantangan, antara lain keterbatasan tenaga kerja terampil, persaingan dengan produk tekstil modern, serta pemanfaatan platform digital yang belum optimal.
Oleh karena itu, penguatan pemasaran digital, kerja sama dengan institusi pendidikan, komunitas budaya, dan pemerintah daerah, serta pengembangan produk menjadi langkah strategis untuk memperluas pasar sekaligus memperkuat fungsi edukasi budaya.
Batik Niati membuktikan bahwa budaya tidak harus bertentangan dengan modernisasi. Melalui inovasi produk, sistem produksi yang fleksibel, pemanfaatan media digital, serta pemberdayaan masyarakat, Batik Niati berhasil memadukan aspek budaya dan ekonomi secara seimbang. Dengan potensi tersebut, Batik Niati dapat menjadi salah satu ikon industri kreatif berbasis budaya di Kota Malang sekaligus berkontribusi dalam pelestarian warisan budaya Indonesia.
Sumber:






