Krisis Air Bersih 30 Tahun di Bunder Jember, Warga Tagih Realisasi Sumur Bor
Warga menunjukkan kondisi sumur di Dusun Bunder, Desa Sumber Pinang.--
JEMBER, MEMORANDUM.DISWAY.ID – Warga Dusun Bunder, RT 03 RW 13, Desa Sumber Pinang, Kecamatan Pakusari, Kabupaten Jember, menagih realisasi pembangunan sumur bor dari pemerintah desa setelah mengalami krisis air bersih selama sekitar 30 tahun.
Krisis air bersih di wilayah tersebut belum menemukan solusi meski telah berlangsung sejak 1996.
Selama ini, kebutuhan air bersih warga hanya bergantung pada bantuan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) saat musim kemarau.
Ketika bantuan dihentikan karena memasuki musim hujan, warga kembali dihantui ancaman kekurangan air saat musim kemarau tiba.
"Kalau musim kemarau sumur warga kering. Dari dulu pernah dijanjikan akan dibuat sumur bor oleh desa, tapi sampai sekarang belum ada realisasinya. Sejak 1996 setiap kemarau ya seperti ini, hanya dibantu tandon dari BPBD," ujar Kusyati, istri ketua RW setempat, Rabu 1 Juli 2026.
BACA JUGA:Tengkorak Misterius Gegerkan Warga Ajung, Tim Inafis Polres Jember Sisir Sisa Kerangka di Kebun Tebu

Mini Kidi Wipes.--
Kondisi tersebut memaksa warga mencari berbagai cara untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.Sebagian warga harus menumpang mandi, mencuci, hingga mengambil air di fasilitas umum dan sumber air yang masih tersedia.
"Kalau mandi numpang di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) atau di sungai. Untuk kebutuhan rumah tangga ya begitu terus setiap kemarau. Air memang selalu jadi persoalan di sini," keluhnya.
Sementara itu, Tiyo Risky Setiawan, salah seorang warga Dusun Bunder, mengatakan kekeringan bukan lagi peristiwa musiman yang mengejutkan, melainkan persoalan tahunan yang telah menjadi rutinitas.
Menurutnya, Dusun Bunder selalu mengalami kesulitan air bersih setiap musim kemarau. "Kalau musim kemarau pasti kekeringan lagi. Dari dulu memang masalah utama di Dusun Bunder ya air bersih," katanya.
Ia menjelaskan, bantuan dari BPBD sebelumnya disalurkan menggunakan mobil tangki yang mendistribusikan air langsung ke ember-ember milik warga.
Kini pola bantuan berubah menjadi pengisian tandon air yang ditempatkan di lingkungan permukiman.
"Dulu mobil tangki datang, warga bawa ember masing-masing. Sekarang disediakan tandon, tapi sudah sekitar tiga bulan ini belum ada bantuan lagi karena sebelumnya dianggap masih musim hujan," beber adik Ketua RT tersebut.
Minimnya pasokan air membuat warga bergantung pada toilet umum untuk mandi dan mencuci.
BACA JUGA:Jaga Swasembada Pangan, Pemkab Lamongan Deteksi Dini Kemarau Ekstrem

Gempur Rokok Illegal--
Sementara itu, kebutuhan air minum dipenuhi dengan membeli air galon isi ulang sehingga menambah pengeluaran warga.
"Kalau mandi dan nyuci di toilet umum. Air minum beli galon isi ulang karena di sini memang sulit mendapatkan air bersih," ulasnya.
Kepala Dusun Bunder, Hariri, membenarkan wilayahnya rutin mengajukan bantuan air bersih kepada BPBD setiap musim kemarau.
Menurutnya, pengajuan terbaru telah disampaikan dan kini tinggal menunggu jadwal distribusi.
"Kemarin kami sudah berkoordinasi dan mengajukan surat ke BPBD. Biasanya satu sampai dua hari setelah pengajuan, bantuan air dikirim," katanya.
Hariri mengakui usulan pembangunan sumur bor pernah disampaikan warga melalui musyawarah desa (musdes).
Namun, hingga kini usulan tersebut belum terealisasi karena keputusan sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah desa.
"Dulu warga sudah mengusulkan sumur bor saat Musdes. Dari pihak desa waktu itu hanya disampaikan agar warga bersabar. Soal realisasinya menjadi kewenangan pemerintah desa," tuturnya.
Di sisi lain, ketika memorandum berupaya mengonfirmasi persoalan tersebut kepada Kepala Desa Sumber Pinang, Mulyono.
Saat mendatangi balai desa, staf seksi pemerintahan, Angga, menyampaikan bahwa kepala desa baru saja meninggalkan kantor.
Ketika mencoba menghubungi Mulyono melalui sambungan telepon, tetapi tidak mendapat respons karena yang bersangkutan tidak memiliki nomor WhatsApp.
Reporter juga mendatangi kediamannya, namun istri Mulyono mengatakan suaminya baru saja keluar bersama warga. "Baru saja keluar, Mas, sama warga. Enggak tahu ke mana," pungkasnya singkat. (fbr)
Sumber:






