Pemadaman Bergilir Bisa Bikin Elektronik Cepat Rusak, Ini Tips dari Pakar ITS
Pakar ITS Dedet Candra Riawan menjelaskan cara melindungi perangkat elektronik saat listrik padam.--
SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID – Dosen Departemen Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Dedet Candra Riawan, mengingatkan masyarakat tentang risiko kerusakan perangkat elektronik akibat pemadaman listrik bergilir serta cara menguranginya.
Pemadaman listrik bergilir yang terjadi di sejumlah wilayah belakangan ini tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga berpotensi memperpendek usia perangkat elektronik di rumah.
Kondisi mati-hidup listrik dalam waktu singkat disebut dapat memicu kerusakan pada komponen elektronik yang sensitif terhadap perubahan tegangan.
Dedet Candra Riawan menjelaskan sebagian besar peralatan elektronik modern menggunakan rangkaian sirkuit yang rentan terhadap fluktuasi listrik.
Ketika listrik padam lalu menyala kembali secara berulang dalam waktu singkat, perangkat akan mengalami stress voltage atau tegangan berlebih yang dapat mempercepat penurunan performa.
"Meski setiap elektronik dirancang memiliki ambang batas ketahanan tertentu, tetap ada titik kerentanan jika dihadapi dengan transisi drastis secara masif," ujar Dedet, Sabtu, 27 Juni 2026.
BACA JUGA:Rugi Puluhan Juta Akibat Pemadaman Listrik, Pengusaha Ponorogo Gugat PLN

Mini Kidi Wipes.--
Menurutnya, dampak pemadaman listrik terbagi menjadi dua, yakni kerusakan fisik perangkat dan terhentinya proses kerja. Di rumah tangga, dampak yang paling terasa adalah berkurangnya masa pakai alat elektronik.
Sementara itu, di sektor industri maupun usaha, kerugian terbesar muncul karena proses komputasi atau produksi yang sedang berjalan harus diulang dari awal ketika listrik padam, meski hanya berlangsung satu hingga dua detik.
"Kedipan listrik selama satu detik saja cukup untuk memutus seluruh algoritma kerja dan memaksa sistem mengulang proses dari titik nol," ucapnya.
Dedet juga mengingatkan masyarakat agar tidak sepenuhnya bergantung pada genset sebagai solusi.
Ia menjelaskan genset berkapasitas kecil yang banyak digunakan pelaku usaha mikro memiliki kemampuan pengaturan tegangan yang terbatas sehingga aliran listrik yang dihasilkan sering kali tidak stabil.
"Lonjakan daya pada genset akan mengalami ketidakstabilan tegangan dan frekuensi yang juga memengaruhi performa barang elektronik yang dialiri daya tersebut," jelasnya.
BACA JUGA:Listrik Padam Massal di Jatim, Pemprov Jatim Pastikan Terus Berkoordinasi dengan PLN

Gempur Rokok Illegal--
Untuk mengurangi risiko kerusakan saat pemadaman, Dedet membagikan beberapa langkah sederhana.
Perangkat seperti kulkas model lama dan pompa air sebaiknya segera dicabut dari stopkontak ketika listrik padam karena membutuhkan arus awal yang besar saat kembali menyala.
Sementara itu, untuk AC non-inverter, pengguna disarankan mematikannya melalui remote terlebih dahulu, kemudian mencabut steker jika jadwal pemadaman telah diketahui.
Setelah listrik kembali normal, tunggu sekitar lima hingga sepuluh menit sebelum menyambungkan kembali perangkat agar tegangan listrik benar-benar stabil.
"Jika kompresor AC langsung terpicu menyala detik itu juga, ia seperti dipaksa berlari kencang saat baru bangun tidur," tutur Dedet.
Berbeda dengan AC berteknologi inverter, perangkat ini umumnya telah dilengkapi sistem pelindung internal sehingga cukup dimatikan melalui remote tanpa harus mencabut kabel dari stop kontak.
Di akhir penjelasannya, Dedet menegaskan perlindungan terhadap perangkat elektronik tidak selalu bergantung pada penggunaan stabilizer yang mahal.
Menurutnya, kebiasaan sederhana seperti mematikan dan mencabut perangkat pada waktu yang tepat justru menjadi langkah paling efektif untuk menjaga umur elektronik sekaligus meningkatkan efisiensi penggunaan energi.
"Teknologi memang dirancang makin cerdas, tetapi pada akhirnya sebuah gerakan manual sederhana tetap menjadi pelindung terbaik," pungkasnya. (ain)
Sumber:





