Pildun Banner

Realitas Sosial Kampung Keripik Tempe Sanan

Realitas Sosial Kampung Keripik Tempe Sanan

Adit Ardiansa, Wahyu Nandyta, Lupita Apta Rahmadhani--

Oleh:
Adit Ardiansa, Wahyu Nandyta, Lupita Apta Rahmadhani
(Sosiologi, FISIP, Universitas Muhammadiyah Malang)

Kampung Sanan yang terletak di Kelurahan Purwantoro, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, dikenal sebagai sentra industri keripik tempe dan menjadi salah satu ikon kuliner khas Kota Malang. Pada awalnya, masyarakat Sanan hanya memproduksi tempe secara tradisional sebagai usaha rumahan. Namun, sejak tahun 1970-an, warga mulai berinovasi dengan mengolah tempe menjadi keripik tempe yang memiliki nilai jual lebih tinggi. Inovasi tersebut berkembang pesat hingga menjadikan Kampung Sanan sebagai pusat produksi keripik tempe yang dikenal di berbagai daerah di Indonesia.

Proses produksi keripik tempe dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu dimulai dari pemilihan kedelai berkualitas, proses fermentasi menjadi tempe, pengirisan tipis, pencelupan ke dalam adonan bumbu, penggorengan, hingga pengemasan. Sebagian pelaku usaha juga mulai memanfaatkan teknologi sederhana, seperti mesin pemotong tempe dan alat pengemasan modern, untuk meningkatkan efisiensi produksi serta menjaga kualitas produk.

BACA JUGA:Persepsi Masyarakat dalam Kolaborasi Tripartit Pengelolaan Trans Jatim di Malang Raya


Mini Kidi Wipes.--

Industri keripik tempe memiliki peran penting dalam meningkatkan perekonomian masyarakat Kampung Sanan. Keberadaan industri ini membuka banyak lapangan pekerjaan, mulai dari proses produksi, pengemasan, hingga pemasaran.

Selain meningkatkan pendapatan masyarakat, industri keripik tempe juga mendorong pertumbuhan sektor lain, seperti perdagangan, transportasi, dan pariwisata. Kampung Sanan bahkan berkembang menjadi kawasan wisata industri yang menarik banyak wisatawan untuk melihat secara langsung proses pembuatan keripik tempe sekaligus membeli produk khas tersebut.

Meski memiliki potensi besar, industri keripik tempe Sanan masih menghadapi berbagai tantangan. Persaingan pasar yang semakin ketat menuntut pelaku usaha untuk terus berinovasi dalam meningkatkan kualitas produk, memperbaiki kemasan, serta menyusun strategi pemasaran yang efektif.

Selain itu, harga kedelai yang sering berfluktuasi akibat ketergantungan pada impor juga menjadi kendala karena meningkatkan biaya produksi. Tantangan lainnya adalah masih terbatasnya kemampuan sebagian pelaku usaha dalam memanfaatkan teknologi digital serta rendahnya minat generasi muda untuk melanjutkan usaha keluarga.

BACA JUGA:Gerakkan Ekonomi dan UMKM, Wali Kota Malang Ajak Masyarakat Gelar Nobar Piala Dunia 2026


Gempur Rokok Illegal--

Untuk mempertahankan keberlangsungan usaha, para pelaku industri terus melakukan berbagai inovasi, seperti menciptakan beragam varian rasa, memperbaiki desain kemasan, serta memanfaatkan media sosial dan marketplace sebagai sarana promosi. Pemasaran digital melalui Instagram, Facebook, TikTok, Shopee, dan Tokopedia terbukti mampu memperluas jangkauan pasar serta meningkatkan daya saing produk keripik tempe yang diminati konsumen.

Secara keseluruhan, Kampung Sanan merupakan contoh keberhasilan industri berbasis masyarakat yang mampu mengubah usaha rumahan menjadi penggerak perekonomian daerah. Industri keripik tempe tidak hanya memperkuat identitas kuliner Kota Malang, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan, serta pengembangan wisata industri. Dengan terus berinovasi dan memanfaatkan teknologi, Kampung Sanan memiliki peluang besar untuk terus berkembang dan bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

Sumber: