Pildun Banner

Rahasia di Buku Nikah (6): Membasuh Luka, Merajut Asa

Rahasia di Buku Nikah (6): Membasuh Luka, Merajut Asa

ilustrasi sejuta kisah rumah tangga--

Malam kian merayap kelam, membawa kabut dingin yang menusuk hingga ke tulang. Di ruang keluarga yang sunyi dan remang itu, dua jiwa yang babak belur oleh badai kehidupan kini duduk berdampingan.

Tak ada lagi sekat dinding kebohongan. Tak ada lagi topeng sandiwara yang selama sembilan tahun ini dipakai Tedjo untuk menyembunyikan boroknya. Semuanya telah telanjang di bawah tatapan takdir.

Surti memecah keheningan dengan suara yang teramat lirih, laksana bisikan angin malam yang membawa kepedihan mendalam. Tatapannya kosong, menembus dinding ruangan. "Aku tidak bisa berjanji untuk langsung memercayaimu lagi, Mas," ucap Surti.

"Aku juga tidak bisa berpura-pura tersenyum, bersandiwara seolah-olah mahligai pernikahan kita sedang baik-baik saja." imbuh Surti, setiap kata yang keluar dari bibirnya terasa seperti sembilan tahun beban yang baru saja tumpah.

BACA JUGA:Rahasia di Buku Nikah (5): Sandiwara Tak Lagi Mampu Melindungi


Mini Kidi Wipes.--

Tedjo mengangguk pasrah. Bahunya yang dulu tegap kini layu, siap menerima takdir terpahit jika pun malam ini ia harus diusir dari hati wanita yang dicintainya. "Aku tahu, Surti... aku sangat mengerti betapa nistanya diriku di matamu saat ini." ungkap Tedjo

Namun, di tengah keputusasaan yang pekat, Surti menarik napas dalam-dalam. Ia mengumpulkan sisa-sisa kekuatan cintanya—serpihan rasa yang nyaris hancur menjadi debu.

"Tapi..." Surti menjeda kalimatnya, membuat jantung Tedjo serasa berhenti berdetak. "Aku mau mencoba." lanjut Surti.

Tedjo tersentak laksana dihantam petir di tengah kesunyian. Ditatapnya wajah ayu istrinya yang sembab dengan mata yang berkaca-kaca. Sepasang matanya seolah tak percaya pada pendengarannya sendiri.

"Mencoba apa, Surti? Setelah semua sandiwara dan dusta yang kulakukan?" tanya Tedjo. "Mencoba membangun ulang apa yang sudah rusak," ucap Surti dengan ketegaran seorang wanita.

Tedjo meraih jemari Surti, menciuminya dengan gairah penyesalan yang membuncah. Di bawah temaram lampu tangis Tedjo pecah.

BACA JUGA:Rahasia di Buku Nikah (4): Saat Kepercayaan Berubah Menjadi Debu


Gempur Rokok Illegal--

Tedjo menangis bukan lagi karena jerat utang yang mencekik lehernya, bukan pula karena bayang-bayang juru sita. Melainkan karena rasa takjub dan haru yang tak terperi kepada dada Surti yang begitu lapang. Wanita yang telah dibohonginya selama hampir sedekade itu, ternyata masih memilih untuk tidak melangkah pergi.

Surti bertahan bukan karena ia lemah. Bukan karena ia tak punya tempat untuk berteduh di dunia yang luas ini. Ia bertahan karena ia adalah seorang wanita yang meyakini bahwa janji suci di bawah kitab pernikahan terlalu sakral untuk dihancurkan oleh badai utang, selama sang suami mau mengetuk pintu maaf dengan kunci kejujuran.

Bagi Surti, memaafkan bukanlah sebuah mantra ajaib yang bisa menghapus noda hitam di lembaran masa lalu. Namun, memaafkan adalah cara Surti memberi satu kesempatan terakhir bagi benih-benih kejujuran untuk tumbuh dan bersemi kembali di atas tanah yang gembur oleh air mata. (atp/rdh/fer/habis)

Sumber:

Berita Terkait