Pildun Banner

Rahasia di Buku Nikah (5): Sandiwara Tak Lagi Mampu Melindungi

Rahasia di Buku Nikah (5): Sandiwara Tak Lagi Mampu Melindungi

ilustrasi Surti termenung dalam keheningan malam. --

Malam telah larut, namun kehangatan seolah enggan singgah di ranjang Surti dan Tedjo. Mereka masih tidur di bawah atap yang sama. Namun, di antara keduanya, ada jurang menganga yang tak kasat mata. Kepercayaan itu telah retak. Dan sekecil apa pun keretakan dalam rumah tangga, ia akan menyisakan perih yang teramat dalam.

Setiap kali dering telepon genggam Tedjo memecah sunyi, dada Surti bergemuruh oleh kecemasan yang liar. Setiap kali sang suami terlambat melangkah pulang, benak Surti dipenuhi oleh sejuta tanya yang menyiksa.

Bukan karena ia takut ada wanita lain yang merebut hati suaminya. Melainkan karena ketakutan yang lebih mengerikan: Rahasia kelam apa lagi yang disembunyikan suaminya. Namun, malam itu badai beralih arah. Tedjo, lelaki yang selama ini tegar memendam duka, tampaknya telah sampai pada titik jenuh pelariannya.

BACA JUGA:Rahasia di Buku Nikah (4): Saat Kepercayaan Berubah Menjadi Debu


Mini Kidi Wipes.--

Dengan tangan yang gemetar, ia membuka laci yang selama sembilan tahun ini selalu terkunci rapat. Satu per satu, semua borok itu dikeluarkan. Surat perjanjian utang, tagihan yang menumpuk, hingga rekening koran yang memerah. Semua digeletakkan begitu saja di atas meja makan. Telanjang. Tanpa ada lagi yang ditutupi.

"Aku capek lari dari kenyataan..." bisik Tedjo, suaranya parau, menyiratkan kelelahan jiwa yang teramat sangat.

Surti menatap tumpukan kertas itu. Lembaran-lembaran yang menjadi saksi bisu betapa suaminya selama ini mencekik lehernya sendiri demi sebuah harga diri.

Ada rasa iba yang menyeruak di sudut hati Surti, namun rasa kecewa sebagai seorang istri jauh lebih menghentak dadanya. "Aku bukan marah karena utang-utang ini, Mas!" sergah Surti, setitik air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

BACA JUGA:Rahasia di Buku Nikah (3): Menikah dengan Nama Palsu dan Dosa Masa Lalu


Gempur Rokok Illegal--

Tedjo mengangkat wajahnya yang layu, menatap sang istri dengan tatapan nanar. "Aku murka karena selama sembilan tahun ini, kamu menganggapku tak ada! Kamu memutuskan segala hal sendirian, seolah aku ini orang asing!" Tangis Surti pecah.

"Aku... aku hanya tidak ingin kamu ikut terbebani, Surti. Aku ingin kamu bahagia..."Air mata seorang lelaki itu runtuh.  "Tapi aku ini istrimu, Mas Tedjo!" jerit Surti, suaranya bergetar hebat menahan badai emosi.

"Menikah itu bukan sandiwara! Bukan tentang menyembunyikan luka agar pasangan tersenyum palsu. Menikah itu adalah kesiapan untuk mengarungi badai bersama, saling menggenggam di kala ombak menerjang!"ungkap Surti.

Kata-kata Surti laksana petir di siang bolong, menghantam ulu hati Tedjo. Ia tertunduk, meratapi kebodohannya yang dibungkus atas nama melindungi. (atp/rdh/fer/bersambung)

Sumber: