Pildun Banner

Rahasia di Buku Nikah (4): Saat Kepercayaan Berubah Menjadi Debu

Rahasia di Buku Nikah (4): Saat Kepercayaan Berubah Menjadi Debu

ilustrasi sejuta kisah rumah tangga saat termenung.--

Ruangan itu kembali dicekam kesunyian yang mencekik. Dalam keheningan itu, ingatan Surti melayang pada malam-malam yang lalu. Mengapa tubuh Tedjo kerap menegang di atas ranjang saat sebuah panggilan dari nomor tak dikenal berdering di tengah malam?.

Kepingan-kepingan teka-teki itu kini menyatu, membentuk sebuah kebenaran yang teramat pahit untuk ditelan. "Berapa... berapa nilai utang itu, Mas?" Tanya Surti, mencoba tegar meski hatinya sudah hancur menjadi debu.

Tedjo menelan ludah yang terasa bagai duri di tenggorokannya. "Hampir delapan ratus juta, Surti"

Surti terpekik pelan, tangannya langsung membekap bibirnya sendiri. Jantungnya berpacu liar. Selama ini ia rela hidup dalam kesederhanaan, menekan segala keinginan naluriahnya sebagai wanita demi masa depan anak-anak mereka.

BACA JUGA:Rahasia di Buku Nikah (3): Menikah dengan Nama Palsu dan Dosa Masa Lalu


Mini Kidi Wipes.--

Ia pikir mereka sedang menabung. Ternyata, mereka sedang berdansa di atas bom waktu yang siap meledak kapan saja!

"Apakah... ada bangkai lain yang kau sembunyikan dariku?" Tanya Surti lagi, tatapannya menghunus langsung ke dalam manik mata Tedjo.

Tedjo hanya terdiam. Lama sekali. Keheningan itu kian menyiksa batin Surti. "Ada..." Jawab Tedjo, nyaris berupa bisikan hantu. "Apa lagi, Mas?! Katakan!". "Sebagian dari pinjaman itu... masih aktif, dan bunganya terus mencekik sampai detik ini."

Runtuh sudah pertahanan Surti. Tubuhnya lemas, ia terduduk di lantai yang dingin. Rasa marah, kecewa, dan benci bercampur aduk dengan rasa iba saat melihat gurat-gurat ketakutan di wajah suaminya.

BACA JUGA:Rahasia di Buku Nikah (2): Jerat Utang di Balik Senyum Suami


Gempur Rokok Illegal--

Lelaki itu, yang selalu tampak gagah di matanya, ternyata menyimpan beban laksana memikul sebongkah batu besar di pundaknya seorang diri selama bertahun-tahun. Namun, yang paling merobek dada Surti bukanlah angka delapan ratus juta itu. Melainkan kenyataan bahwa Tedjo menganggapnya begitu rapuh, hingga tak sudi berbagi beban bersamanya.

Tedjo lebih memilih memeluk dusta daripada mempercayai kesetiaan istrinya. Surti bangkit dengan sisa-sisa tenaga yang ada. Sebelum melangkah menuju kamar tidur yang malam ini akan terasa amat dingin dan asing, ia menatap Tedjo untuk terakhir kalinya pada malam yang terkutuk itu.

"Aku tidak tahu apakah esok hari aku masih bisa menyajikan kopi untukmu dengan rasa yang sama," ucap Surti dengan nada sedingin es. "Duit bisa dicari, Mas. Tapi kepercayaan yang telah kau gadaikan selama sembilan tahun... tak akan pernah bisa ditebus kembali."

Tedjo hanya bisa meratapi kepergian bayang-bayang istrinya di balik pintu kamar. Di bawah temaram lampu seadanya, ia menyadari satu hal yang teramat perih. Utang terbesarnya bukanlah pada bank atau para lintah darat, melainkan pada sekeping hati suci milik Surti, yang kini telah ia hancurkan hingga tak berbentuk lagi. (atp/rdh/fer/bersambung)

Sumber:

Berita Terkait