HJKS Banner

Rahasia di Buku Nikah (2): Jerat Utang di Balik Senyum Suami

Rahasia di Buku Nikah (2):  Jerat Utang di Balik Senyum Suami

ilustrasi sejuta kisah rumah tangga.--

Malam pun tiba membawa kepekatan yang mencekam. Ketika Tedjo melangkah masuk ke dalam rumah, sisa-sisa kelelahan menggelayut di wajahnya yang tampan namun menyimpan misteri.

Saat lelaki itu melepaskan jam tangan peraknya, Surti, memberanikan diri membuka suara. "Mas... tadi ada telepon dari pihak penagihan."

Gerakan tangan Tedjo seketika terhenti. Detik itu juga, Surti menangkap perubahan raut wajah suaminya. Ada kilat ketakutan yang menjalar di manik mata suaminya, meski hanya sekilas sebelum akhirnya meredup ke dalam topeng ketenangan.

"Penagihan apa?" tanya Tedjo, suaranya terdengar datar, namun ada nada bergetar yang coba ia sembunyikan. "Mereka mencari Tedjo Prasetyo."ungkap Surti. "Itu salah orang," sergah Tedjo cepat, terlalu cepat untuk sebuah ketidaktahuan. Ia memalingkan wajah, enggan menatap mata Bulan yang mulai berkaca-kaca.

BACA JUGA:Sebelum Janur Kuning Terpasang (4): Melepaskan demi Kebahagiaan


Mini Kidi Wipes.--

"Mas kenal nama itu?" kejar Surti, dadanya kian sesak oleh kecurigaan yang membakar. "Gak penting!" ketus Tedjo. "Kalau tidak penting, kenapa Mas kelihatan panik? Kenapa Mas ketakutan?!" suara Surti meninggi, ego keibuannya terkoyak oleh sikap sang suami.

Tedjo tidak menjawab. Dengan langkah seribu, ia melenggang masuk ke dalam kamar, menyisakan keheningan yang menyiksa bagi Surti.

Malam itu, di bawah remang lampu ruang tamu, Bulan menangis tanpa suara. Sembilan tahun ia menyerahkan kesucian dan kesetiaannya, namun malam ini ia tersadar, ia sedang memeluk sesosok pria asing yang tak pernah ia ketahui isi hatinya.

Hari-hari berikutnya berjalan bagai neraka yang tak berapi. Puncaknya terjadi ketika seorang pria berseragam rapi mengetuk pintu rumah mereka.

BACA JUGA:Sebelum Janur Kuning Terpasang (3): Bulan Lelah di Rumah yang Sunyi


Gempur Rokok Illegal--

Pria itu menyodorkan selembar kertas putih berstempel resmi. Ketika mata Surti membaca angka yang tertera di sana, pandangannya mendadak kabur. Bumi seolah berputar.

Ratusan juta rupiah! Sebuah angka yang mustahil dibayangkan oleh keluarga kecil mereka. "Ibu benar-benar tidak mengetahui pinjaman ini?" tanya petugas lapangan itu dengan tatapan penuh iba, seolah tahu wanita di hadapannya adalah korban dari kebiadaban sebuah rahasia.

Surti hanya mampu menggeleng lemah. Air matanya luruh, membasahi kertas tagihan badai tersebut. "Sesuai data kami, utang ini sudah berjalan beberapa tahun, Ibu..."ungkap petugas lapangan itu. "Beberapa tahun?" Surti tercengang mendengar ucapan petugas itu.

Dunia Surti seolah runtuh, selama bertahun-tahun pernikahan mereka, lelaki itu menyembunyikan bangkai yang kini baunya menusuk hingga ke hulu hati Bulan. (atp/rdh/fer/bersambung)

Sumber:

Berita Terkait