SMPN 58 Surabaya Angkat Tema Kuliner Tradisional dan Batik Kitir-kitiran di SSF 2026
Kepala SMPN 58 Surabaya, Suharti bersama guru pendamping serta siswi yang mengenakan kostum unik kuliner khas Surabaya. --
SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Sepanjang Jalan Tunjungan mendadak berubah menjadi panggung peraga busana yang meriah pada Minggu 21 Juni 2026. Ribuan pasang mata terpukau oleh deretan busana imajinatif dalam gelaran SURABAYA Fashion Festival (SFF) 2026.
Di antara ratusan peserta yang memamerkan kostum unik, sosok Viola, seorang pelajar dari SMPN 58 Surabaya, sukses mencuri perhatian publik dan lensa kamera.
Pelajar berparas menawan ini tampil percaya diri menyusuri aspal Tunjungan dengan membawa "hidangan" berjalan.
Viola mengenakan kostum megah bertema kuliner legendaris Kota Pahlawan. Di pundaknya, terbentang sayap dekoratif berbalut daun pisang imitasi yang memuat replika detail dari kuliner khas lokal, yakni pecel semanggi, lontong balap, hingga rujak cingur lengkap dengan ornamennya.
"Saya sangat antusias ikut SFF 2026 ini," ujar Vika di sela-sela parade dengan senyum yang terus mengembang, meski ia harus memikul beban kostum seberat dua kilogram di bawah terik matahari Surabaya.
BACA JUGA:Kenakan Kostum Roro Jonggrang, Tiara Salsabila Pukau Penonton Surabaya Fashion Festival 2026

Mini Kidi Wipes.--
Tak hanya replika makanan, detail busana bagian bawah Vika juga menyimpan filosofi mendalam. Ia mengenakan kain jarik bermotif batik kitir-kitiran.
Motif batik khas Surabaya ini secara visual menggambarkan lanskap geografis kota yang dikelilingi dan dialiri oleh beberapa sungai bersejajar.
Perwakilan dari SMPN 58 Surabaya, Reza Stefani Carlesia, menjelaskan bahwa pemilihan tema ini merupakan upaya sadar dari pihak sekolah untuk menyuarakan identitas lokal di panggung mode urban.
"Kostum ini merupakan gambaran dari makanan khas Surabaya. Ada lontong balap, semanggi, dan rujak cingur. Kami ingin membawa dan mengenalkan apa yang menjadi ciri khas tradisional Kota Surabaya ke masyarakat luas," terang Reza Stefani Carlesia.
Menariknya, ia membeberkan bahwa SMPN 58 Surabaya sebenarnya tidak memiliki ekstrakurikuler atau program khusus modeling. Namun, demi menyukseskan SFF 2026, mereka sengaja membentuk tim dan menggelar latihan intensif.
"Persiapannya cukup lumayan, sekitar tiga minggu. Mulai dari latihan jalan (modeling) hingga proses pembuatan kostumnya sendiri," tambahnya.
Sumber:





