HJKS Banner
SFF 20266

Kisah Cinta yang Tertinggal di Tanah Rantau (4): Titik Jenuh Hati yang Terluka

Kisah Cinta yang Tertinggal di Tanah Rantau (4):  Titik Jenuh Hati yang Terluka

ilustrasi mereka berdiam diri di sejuta kisah rumah tangga--

Detik jam dinding terus berdentang, laksana hitungan mundur menuju akhir sebuah kesetiaan. Malam itu, ketika Bintang baru saja pulang, Berlian memberanikan diri mengucapkan pertanyaan yang selama ini mengendap di dalam dadanya.

"Mas masih cinta sama aku?"

Bintang yang sedang melepas dasinya mendadak terdiam. Pertanyaan itu sederhana, terlalu sederhana, namun justru karena sederhana, jawabannya menjadi begitu sulit. Untuk beberapa detik, tidak ada satu kata pun keluar dari bibir bintang, dan diam itulah yang menghancurkan hati Berlian.

BACA JUGA:Kisah Cinta yang Tertinggal di Tanah Rantau (3): Ketika Bintang Jatuh dalam Pelukan Wanita Lain


Mini Kidi Wipes.--

Bukan karena ia takut mendengar jawaban yang menyakitkan, tetapi karena ia menyadari, seseorang yang dulu mencintainya tanpa ragu kini membutuhkan waktu untuk sekadar menjawab.

Perempuan itu tersenyum tipis, senyum yang lahir dari hati yang sudah terlalu lelah untuk menangis. "Dulu waktu Mas gak punya apa-apa, aku selalu percaya sama Mas."

Bintang menunduk. "Tapi sekarang...waktu Mas punya segalanya, aku justru kehilangan Mas." suara Berlian bergetar,

Ruangan itu mendadak terasa sesak. Bintang ingin membantah, ingin menjelaskan bahwa kesibukan adalah konsekuensi dari kesuksesan, tetapi entah mengapa, malam itu tak satu pun kalimat mampu keluar.

Keangkuhannya mulai rontok. Ia tak mampu membantah kepedihan Berlian. Namun, kilauan dunia, dan sanjungan-sanjungan semu di luar sana telanjur membuai ego kelaki-lakiannya. Bintang telah silau, terbang terlalu tinggi hingga lupa pada tanah tempatnya dulu berpijak.

Berlian mulai menyadari bahwa waktu telah mengubah banyak hal. lelaki yang dulu duduk bersamanya di sudut Kota Pahlawan, menikmati semangkuk bakso berdua sambil menertawakan masa depan yang masih samar, kini seolah telah menjadi orang lain.

BACA JUGA:Kisah Cinta yang Tertinggal di Tanah Rantau (2) Janji di Bawah Langit Pahlawan


Gempur Rokok Illegal--

Bintang yang dulu dikenalnya adalah lelaki sederhana, lelaki yang mampu menemukan kebahagiaan dalam hal-hal kecil, Kini menjadi lelaki yang berbeda, kesuksesan telah membawa warna baru dalam hidupnya, warna itu perlahan menghapus warna-warna lama yang pernah mereka lukis bersama.

Semakin tinggi kedudukannya, semakin sulit disentuh, semakin banyak pujian yang diterimanya, semakin jauh langkahnya meninggalkan perempuan yang pernah berdiri di sampingnya saat ia bukan siapa-siapa.

Ponsel Bintang yang diletakkan di atas meja mendadak menyala dan menampilkan pesan dari Bulan. Berlian melihatnya dengan jelas, anehnya, tidak ada lagi ledakan amarah, tidak ada lagi tangisan, Berlian hanya tersenyum, senyum tipis yang membuat jantung Bintang berdebar tidak menentu. “Kamu marah?” tanya Bintang. “Gak.”Berlian menggeleng. “Kamu sedih?”tanya Bintang.

Perempuan itu kembali menggeleng. “Aku cuma capek.” Jawaban Berlian terdengar sederhana. “Aku sudah berusaha jadi perempuan yang selalu ada buat Mas.” Suara Berlian pelan. “Aku ada saat Mas gak punya apa-apa. Aku ada saat semua orang meragukan Mas. Aku ada saat Mas hampir berhenti kuliah. Tapi sekarang aku sadar. Aku gak bisa terus berjuang sendirian.”Mata Berlian mulai berkaca-kaca.

Malam itu tidak ada pertengkaran. Tidak ada drama. Hanya dua orang yang akhirnya menyadari bahwa cinta saja tidak selalu cukup untuk mempertahankan hubungan.  Dan beberapa minggu kemudian, Berlian pergi. Bukan karena berhenti mencintai. Tetapi karena terlalu lama terluka. (atp/rdh/fer/bersambung)

Sumber:

Berita Terkait