Bongkar Scamming Internasional, Polrestabes Surabaya Tetapkan 45 Orang Tersangka
Kapolrestabes Surabaya Kombespol Luthfie Sulistiawan memberikan keterangan perkembangan penanganan kasus scamming internasional.--
SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID – Satreskrim Polrestabes Surabaya terus mengembangkan kasus scamming internasional yang markasnya di Jalan Dharma Husada Permai VII Blok N 318 dibongkar pada Mei 2026 lalu.
Kapolrestabes Surabaya Kombespol Luthfie Sulistiawan mengatakan, sejauh ini pihaknya telah menetapkan 45 orang sebagai tersangka. Mayoritas para tersangka adalah warga negara asing.
"Perkembangan terkait proses penyidikan terhadap 44 pelaku scamming ditambah satu lagi. Jadi 45 tersangka," katanya, Rabu 17 Juni 2026.
Rinciannya, 31 tersangka warga negara Cina, 4 warga negara Jepang, 7 warga negara Taiwan, dan 3 warga negara Indonesia.
BACA JUGA:Indonesia Jadi Incaran Markas Sindikat Scamming Internasional, Ratusan WNA Diringkus

Mini Kidi Wipes.--
Pihaknya terus bekerjasama dengan berbagai pihak, termasuk Kepolisian Cina dan Jepang untuk mengungkap kasus ini.
"Saat ini sudah kita lakukan pemeriksaan terhadap korban-korban yang ada di Jepang, dan dalam waktu dekat kita akan segera lakukan pemeriksaan para korban yang ada di Cina," lanjutnya.
Diberitakan sebelumnya, Markas scamming atau penipuan online di Surabaya terbongkar. Polisi menetapkan 44 tersangka, yang hampir keseluruhan warga negara asing asal Jepang, Cina, dan Taiwan.

Gempur Rokok Illegal--
Dalam aksinya, mereka tidak menyasar warga negara Indonesia. Sasaran mereka adalah warga negara asing di Jepang dan Cina. Sementara di Surabaya hanya dijadikan markas saja untuk mereka melakukan penipuan online.
Kapolrestabes Surabaya Kombespol Luthfie Sulistiawan mengatakan, dalam aksinya, mereka menyamar sebagai polisi Cina. Mereka menyeting tempat seperti kantor polisi, dan menggunakan seragam. Itu untuk meyakinkan korbannya bahwa pelaku merupakan polisi.
"Jadi untuk para pelaku ini mencari mangsa dengan matang, bahkan peralatan di TKP seolah-olah itu sebuah kantor polisi, dengan gambar-gambar daftar DPO, kemudian ada beberapa gambar-gambar kepolisian itu yang mungkin seolah-olah itu adalah polisi," katanya.
Sumber:






