Kisah Endang Muriani, Sentuhan Keibuan Bonita dan Warisan Cinta Persebaya
Podcast Sejuta Kisah Rumah Tangga menghadirkan Bonita Endang Muriani sebagai narasumber.--
SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID – Endang Muriani, seorang Bonita (bonek wanita) asal Surabaya, membagikan kisah kecintaannya kepada Persebaya, peran keluarga, serta pengalaman mendampingi tim kebanggaannya dalam podcast Sejuta Kisah Rumah Tangga di Memorandum TV, Rabu 17 Juni 2026.
Endang Muriani atau yang akrab disapa Bu Mur merupakan seorang ibu rumah tangga yang membuktikan kecintaan terhadap Persebaya dapat berjalan beriringan dengan peran domestik dan menjadi energi positif bagi keluarga.
Hadir sebagai narasumber dalam podcast "Sejuta Kisah Rumah Tangga" yang dipandu host Anis Tiana Pottag, Bu Mur membagikan perjalanan emosionalnya menjadi seorang Bonita, tantangan membagi waktu, hingga aksi humanis saat mendampingi Persebaya berlaga.
BACA JUGA:Kisah Cinta yang Tertinggal di Tanah Rantau (2) Janji di Bawah Langit Pahlawan

Mini Kidi Wipes.--
Bagi Bu Mur, kecintaan kepada Persebaya bukan sekadar hobi musiman, melainkan warisan dari keluarganya yang memiliki hobi mendukung tim dari tribun stadion. Ia mengakui kecintaan tersebut kini mulai beregenerasi dan diwariskan kepada anak-anaknya.
Beruntung, aktivitasnya memberikan dukungan langsung ke stadion selalu mendapat dukungan penuh dari keluarga.
"Ternyata jadi suporter itu bisa diwariskan, ada regenerasi. Hobinya disupport penuh oleh keluarga," ungkap Anis Tiana Pottag.
Meski memiliki kecintaan besar terhadap sepak bola, Bu Mur menegaskan keluarga tetap menjadi prioritas utama dalam kehidupannya.
Ketika dihadapkan pada pilihan antara mendampingi anak yang sakit atau menonton pertandingan Persebaya, ia memilih keluarga sebagai hal yang tidak dapat dinegosiasikan.
Pengalaman paling berkesan bagi Bu Mur adalah saat menjalani laga tandang atau away days, termasuk saat mendukung Persebaya di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta.
Di tengah perjalanan, naluri keibuannya muncul ketika melihat sesama suporter yang kelelahan dan kelaparan.
Bu Mur kerap membagikan makanan kecil kepada suporter yang membutuhkan. Menurutnya, memberikan makanan lebih bermanfaat dan lebih diterima dibandingkan memberikan uang.
"Di situ kita sama-sama suporter. Jangan sampai ada yang kelaparan. Kalau kita kasih uang mungkin tidak dipakai, tapi kalau kita kasih makanan kecil, dimakan bersama. Di mana pun, kalau ada sentuhan seorang ibu, anak-anak (suporter) tidak akan kelaparan," tutur Bu Mur.
BACA JUGA:Kisah Cinta yang Tertinggal di Tanah Rantau (1): Jatuh Cinta dan Hadirnya sang Penyelamat Hidup

Gempur Rokok Illegal--
Selain itu, Bu Mur juga membagikan pengalaman kurang menyenangkan yang pernah dialaminya saat memasuki stadion.
Ia mengaku parfum miliknya disita petugas karena aturan keamanan saat pemeriksaan di pintu masuk stadion.
Namun, setelah pertandingan usai, barang tersebut tidak dapat ditemukan saat hendak diambil kembali.
Menurutnya, sistem penitipan barang di stadion perlu dibenahi dengan mengedepankan kejujuran dan profesionalisme.
Bagi Bu Mur, tampil wangi, rapi, dan trendi di stadion merupakan cara untuk membawa energi positif serta menghapus citra kumuh yang kerap melekat pada suporter. (mtr)
Sumber:









