Empat Ordal Ikut Bertarung di Bursa Dirut Perumdam Tirta Taman Sari Kota Madiun
Ilustrasi proses seleksi calon Direktur Utama Perumdam Tirta Taman Sari Kota Madiun.--
MADIUN, MEMORANDUM.DISWAY.ID – Tahapan pendaftaran calon Direktur Utama (Dirut) Perumdam Tirta Taman Sari Kota Madiun resmi ditutup.
Sebanyak sembilan pendaftar akan bersaing memperebutkan kursi pimpinan perusahaan daerah tersebut, menggantikan Suyoto yang akan memasuki masa purnatugas pada 14 Juli mendatang.
Dari sembilan pendaftar tersebut, empat berasal dari internal Perumdam Tirta Taman Sari Kota Madiun.
Mereka adalah Kepala Bagian Langganan Suko Hariyono, Staf Khusus Bidang Teknik Kusbianto, Staf Khusus Bidang Umum Joko Nugroho, serta Kepala Bagian Perencanaan dan Pengembangan Hariyadi.
Sementara itu, lima pendaftar lainnya berasal dari luar internal perusahaan dan identitasnya belum dipublikasikan.
BACA JUGA:Gaji ke-13 Cair Hari Ini, Pemkot Madiun Kucurkan Rp 18 Miliar untuk ASN dan Pejabat

Mini Kidi Wipes.--
Pelaksana Tugas Wali Kota Madiun, F. Bagus Panuntun, menegaskan seluruh tahapan seleksi harus berjalan sesuai ketentuan yang berlaku dan terbuka bagi siapa saja yang memenuhi persyaratan.
"Yang penting saya sampaikan, pendaftaran ini terbuka untuk semua," tegas Bagus.
Menurutnya, sosok yang akan memimpin perusahaan daerah tersebut harus memiliki kapasitas dan kompetensi yang mumpuni di berbagai sektor.
Selain itu, direktur utama terpilih juga dituntut mampu membawa perusahaan berkembang lebih profesional serta menghasilkan keuntungan yang berdampak pada peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Pasalnya, kontribusi Perumdam Tirta Taman Sari terhadap PAD Kota Madiun hingga saat ini dinilai masih belum optimal. "Siapa yang terbaik, itulah yang akan menjadi direktur," ujarnya.
BACA JUGA:Pengamen Bawa Anak Kecil Dikeluhkan Warga, Polisi Pulangkan ke Surabaya Lewat Layanan 110

Gempur Rokok Illegal--
Sebelumnya, Wakil Ketua DPRD Kota Madiun, Istono, turut menyoroti proses seleksi calon Direktur Utama Perumdam Tirta Taman Sari.
Menurutnya, salah satu tantangan yang harus segera diselesaikan pimpinan baru adalah membangun harmonisasi di lingkungan direksi.
Ia menilai adanya kesan kelompok tertentu yang merasa memiliki kewenangan lebih besar dapat memunculkan stigma bahwa perusahaan berjalan layaknya kapal dengan dua nakhoda.
"Jangan sampai ada direksi yang merasa bisa berjalan sendiri atau berbeda dengan direktur utama. Semua harus tunduk pada aturan dan komando dirut. Apa yang diputuskan harus bisa diterjemahkan dan dijalankan dengan baik hingga ke lapisan bawah," tuturnya. (adi)
Sumber:









