Menuju ultah ke-8 memorandum.co.id
HJKS Banner
SFF 20266

Wamenkes Soroti Tren Merokok Pelajar, Belanja Rokok Hampir Setara Beras

Wamenkes Soroti Tren Merokok Pelajar, Belanja Rokok Hampir Setara Beras

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI, dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P, FISR--

SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID – Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI dr Benjamin Paulus Octavianus SpP FISR menyoroti meningkatnya kebiasaan merokok di kalangan pelajar SMP hingga SMA saat kunjungannya ke Surabaya.

Menurutnya, masa SMP hingga SMA menjadi fase paling rawan bagi remaja untuk mulai mengenal rokok.

"Paling banyak itu mulai dia SMP ke SMA. Nah, itulah awal mereka mulai merokok dan kita harus melakukan edukasi bahaya merokok," ucap dr Benjamin di Surabaya, Kamis, 21 Mei 2026.

Ia menjelaskan, banyak pelajar belum memahami dampak rokok yang merusak tubuh secara perlahan dalam jangka panjang.

BACA JUGA:DBHCHT Cuma 3 Persen, Pemprov Jatim Minta Porsi Dana Cukai Rokok Ditambah Jadi 10 Persen


Mini Kidi Wipes.--

Menurutnya, asap rokok dapat merusak alveoli paru-paru dan menyebabkan pembuluh darah menjadi lebih kaku.

"Komplikasi daripada merokok itu kan baru terjadi sekian puluh tahun kemudian, bukan hari itu juga," tuturnya.

Wamenkes mengatakan kebiasaan merokok sejak usia muda meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis, termasuk hipertensi dan gangguan jantung.

Ia menyebut kandungan dalam rokok dapat mempercepat pengerasan pembuluh darah sehingga memperburuk kondisi kesehatan seseorang. Karena itu, pemerintah mendorong penguatan edukasi kesehatan sejak usia sekolah.

Selain edukasi, pemerintah daerah juga diminta mempersempit ruang merokok di tempat umum.

"Kalau melarang orang merokok sulit, tapi kita mempersempit tempat merokok dan menjelaskan bahayanya kepada masyarakat," ujar dia.


Gempur Rokok Illegal--

Selain dampak kesehatan, wamenkes juga menyoroti besarnya pengeluaran rumah tangga untuk membeli rokok. Belanja rokok keluarga Indonesia saat ini hampir setara dengan pengeluaran membeli beras.

Menurutnya, dana untuk membeli rokok dapat dialihkan untuk kebutuhan yang lebih bermanfaat seperti pendidikan anak dan pemenuhan gizi keluarga.

"Belanja rokok itu sekitar 11 sampai 12 persen. Sedangkan, beli beras rata-rata keluarga kita 9 sampai 11 persen. Hampir sama," tegasnya.

Ia berharap edukasi antirokok di lingkungan sekolah mampu menekan jumlah perokok usia pelajar yang terus meningkat. (ain)

 
 

Sumber:

Berita Terkait