Menuju ultah ke-8 memorandum.co.id
SFF 20266

Koreksi Rupiah Faktor Musiman, Menkeu dan BI Optimistis Menguat Lagi Juli 2026

 Koreksi Rupiah Faktor Musiman, Menkeu dan BI Optimistis Menguat Lagi Juli 2026

Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa,--

JAKARTA, MEMORANDUM.DISWAY.ID – Pemerintah dan Bank Indonesia optimistis nilai tukar rupiah kembali menguat pada Juli–September 2026 meski saat ini tertekan oleh dolar Amerika Serikat akibat sentimen jangka pendek dan faktor musiman, Senin, 18 Mei 2026.

Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan tekanan terhadap rupiah tidak perlu disikapi berlebihan karena fundamental ekonomi Indonesia masih dalam kondisi baik.

BACA JUGA:Indonesia Raih Peringkat Pertama Transparansi Pelaporan Belanja Perpajakan Terbaik Dunia


Mini Kidi Wipes.--

Menurut dia, pemerintah saat ini lebih fokus menjaga fondasi ekonomi agar pertumbuhan tetap terjaga.

“Nanti kita perbaiki (pelemahan rupiah). Sekarang fondasi ekonominya bagus, itu masalah sentimen jangka pendek. Jadi saya fokus jaga fondasi ekonomi dengan memastikan pertumbuhan ekonomi tidak terganggu. Nanti kita juga akan masuk ke bond market mulai hari ini,” ujar Purbaya di Jakarta, Senin, 18 Mei 2026.

Ia mengatakan, sebagian sentimen negatif yang membayangi rupiah muncul karena kekhawatiran kondisi saat ini menyerupai krisis 1997–1998.

Namun, Purbaya menilai situasinya sangat berbeda. Pandangan serupa juga disampaikan Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo.

Perry menjelaskan, penguatan dolar AS terhadap rupiah saat ini sebagian besar dipicu faktor musiman. Karena itu, tekanan terhadap rupiah diperkirakan hanya bersifat sementara.

“Penguatan dolar AS ini terjadi karena faktor demand, biasanya untuk kebutuhan jemaah haji, pembayaran dividen, pembayaran utang,” ujar Perry di Gedung DPR RI.

BI meyakini tekanan tersebut akan mereda pada semester kedua tahun ini.

Berdasarkan pengalaman beberapa tahun terakhir, nilai tukar rupiah biasanya mulai menguat pada periode Juli hingga September.

“Dari pengalaman, Juli–Agustus–September akan menguat dan kami meyakini akan kembali ke range 16.200–16.800 per dolar AS, sesuai asumsi makro di APBN,” kata Perry.

Keyakinan itu juga menjadi dasar BI untuk tetap menjaga stabilitas pasar keuangan tanpa mengganggu likuiditas di dalam negeri.


Gempur Rokok Ilegal. Ini Ciri-ciri rokok Ilegal.--

Perry menegaskan, bank sentral siap melakukan langkah lanjutan untuk memperkuat rupiah apabila diperlukan.

Perry menambahkan, BI juga belajar dari pengalaman krisis 1997–1998.

Saat itu, fokus besar pada stabilisasi rupiah justru berujung pada pengetatan likuiditas yang memperburuk kondisi ekonomi.

"Kami tidak mau itu, makanya beli SBN ke pasar sekunder. Ini sekaligus upaya agar tidak kekeringan likuiditas, dan bagian ini untuk menarik inflow," tegas Perry. 

 
 
 

Sumber: