Ratusan Siswa Surabaya Keracunan Program MBG, DPRD Desak Evaluasi Total dan Audit Distribusi
Anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya, Johari Mustawan. --
SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sedianya bertujuan meningkatkan kualitas kesehatan pelajar, justru menyisakan persoalan serius di Kota Pahlawan. Ratusan siswa dari jenjang SD hingga SMP di Surabaya dilaporkan mengalami gejala klinis serupa keracunan usai menyantap paket makanan dari program tersebut.
Menanggapi insiden massal ini, Anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya, Johari Mustawan, angkat bicara. Pria yang akrab disapa Bang Jo ini menegaskan bahwa kesehatan siswa adalah variabel yang tidak boleh dikompromikan dalam kebijakan publik apa pun.
BACA JUGA:Kepala Puskesmas Tembok Dukuh Ungkap Hampir 200 Siswa Diduga Keracunan MBG

Mini Kidi Wipes.--
Bang Jo mendesak Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya untuk tidak membuang waktu dalam menangani para korban. Ia meminta seluruh fasilitas kesehatan dikerahkan untuk memastikan siswa yang terdampak mendapatkan perawatan intensif hingga pulih total.
"Keselamatan dan kesehatan anak-anak harus menjadi prioritas utama. Kejadian ini tentu sangat memprihatinkan dan tidak boleh dianggap sepele. Kami minta Pemkot bergerak cepat memastikan pelayanan medis maksimal bagi para siswa," ujar Bang Jo.

Gempur Rokok Ilegal. Ini Ciri-ciri rokok Ilegal.--
Tak hanya soal penanganan medis, legislator dari PKS ini juga menuntut adanya investigasi menyeluruh. Ia menyoroti bahwa rantai pasok makanan mulai dari pemilihan bahan baku hingga metode distribusi harus diaudit secara transparan.
"Kami sangat mendukung program pemenuhan gizi ini. Namun, niat baik harus dibarengi dengan pengawasan ketat. Jangan sampai program yang tujuannya menyehatkan justru membahayakan nyawa siswa," tegasnya.
BACA JUGA:Kesaksian Siswa Korban Keracunan MBG di Surabaya, Daging Disebut Berasa Obat
Guna meredam keresahan wali murid dan publik, Bang Jo meminta hasil pemeriksaan laboratorium terkait sampel makanan segera dibuka secara transparan. Hal ini penting untuk mengetahui secara pasti penyebab keracunan, apakah berasal dari bakteri, kontaminasi zat kimia, atau faktor lainnya.
Ia berharap peristiwa ini menjadi tamparan keras bagi penyelenggara layanan publik untuk memperketat kontrol kualitas ke depannya.
"Semoga seluruh siswa yang terdampak segera diberikan kesembuhan dan bisa kembali beraktivitas seperti biasa. Kami akan terus mengawal kasus ini hingga ada perbaikan sistemik," pungkasnya. (alf)
Sumber:









