Live TikTok Jadi Etalase 'Pijat Plus-Plus', Pakar: Bukan Sekadar Moral, Ini Krisis Nasional
Dosen Sosiologi Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Farid Pribadi, menyebut fenomena live Tiktok jadi lapak pijak plus-plus sebagai darurat nasional. --
SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Tren promosi pijat plus-plus yang kini marak ditawarkan secara terbuka melalui siaran langsung di media sosial seperti TikTok menjadi sorotan serius. Fenomena ini dinilai bukan sekadar penyimpangan individu, melainkan cerminan masalah sosial yang lebih dalam.

Mini Kidi Wipes.--
Dosen Sosiologi Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Farid Pribadi, menyebut maraknya praktik tersebut sebagai gejala anomie, yakni kondisi ketika norma sosial melemah atau bahkan hilang.
"Maraknya promosi pijat plus-plus secara live di media sosial merupakan petanda bahwa norma-norma sosial melemah, sehingga orang kehilangan pegangan tentang mana yang benar dan mana yang salah," ujar Farid.
BACA JUGA:Be Fresh Be Fit Surabaya Atasi Masalah Kejantanan Lewat Pijat Plus-Plus

Ayo bolo kita gempur rokok ilegal.--
Menurut Farid, tekanan gaya hidup di era digital turut memperparah situasi. Media sosial kerap menampilkan kesuksesan instan, kemewahan, dan standar hidup tinggi, sementara akses untuk mencapainya tidak merata.
"Ketika ada jurang antara impian dan realitas, sebagian orang memilih jalan pintas, termasuk cara-cara menyimpang," jelas Farid.
Ia menilai, banyak pelaku sebenarnya bukan karena niat jahat, melainkan terdesak kondisi ekonomi. Keberanian mereka tampil blak-blakan di TikTok didorong perhitungan untung-rugi, di mana potensi keuntungan besar tidak sebanding dengan risiko tertangkap yang masih rendah akibat lemahnya pengawasan siaran langsung.
BACA JUGA:Pijat Plus-Plus Tematik Mulai Rp250 Ribu di HR Muhammad Surabaya
Farid menegaskan, fenomena ini bukan berarti terjadi perubahan besar dalam norma masyarakat.
"Ini lebih pada pemanfaatan celah. Pelaku tahu batasan algoritma, selama tidak vulgar, konten mereka lolos. Bahkan, mereka menggunakan kode-kode terselubung seperti “BO”, “ST”, “pijat ekstra”, hingga emoji tertentu untuk menghindari deteksi," terangnya.
Algoritma media sosial juga dinilai turut berperan memperluas praktik ini. Konten yang memancing perhatian justru lebih mudah viral, sehingga mempertemukan pelaku dan calon konsumen dalam satu "lingkungan digital".
"Algoritma menjadi semacam ruang pergaulan baru yang mempercepat proses belajar penyimpangan," imbuhnya
Sumber:








