Menuju ultah ke-8 memorandum.co.id
SFF 20266

Cuaca Panas Terik Melanda Indonesia, Inilah Faktor Penyebabnya

Cuaca Panas Terik Melanda Indonesia, Inilah Faktor Penyebabnya

SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Belakangan ini, masyarakat di berbagai wilayah Indonesia merasakan suhu udara yang terasa lebih panas dari biasanya. Suhu panas di Surabaya bahkan mencapai 38°C dan terasa seperti 40°C di siang hari. Saat malam hari suhunya pun tidak turun banyak dan masih terasa panasnya. 

Kondisi ini terutama terjadi sepanjang Maret hingga April 2026, dan bukan tanpa alasan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan bahwa fenomena ini merupakan hasil dari kombinasi beberapa faktor alam yang saling berkaitan.

BACA JUGA:Waspadai Potensi El Nino 2026, BMKG: Kemarau Diprediksi Jauh Lebih Kering

Salah satu penyebab utama adalah fenomena gerak semu matahari. Pada periode ini, posisi matahari berada di sekitar garis ekuator, bahkan tepat di atas wilayah Indonesia. Akibatnya, sinar matahari jatuh hampir tegak lurus ke permukaan bumi, sehingga intensitas panas yang diterima menjadi lebih maksimal dibandingkan waktu lainnya.

Selain itu, kondisi langit yang cenderung cerah dengan minim tutupan awan turut memperparah keadaan. Awan yang biasanya berfungsi sebagai penghalang atau pemantul radiasi matahari kini berkurang jumlahnya. Hal ini membuat sinar matahari langsung mencapai permukaan tanpa banyak hambatan, sehingga suhu udara meningkat signifikan.

Faktor lain yang tak kalah penting adalah peralihan musim atau masa pancaroba menuju musim kemarau. Pada fase ini, udara cenderung lebih kering dan curah hujan mulai berkurang. Kondisi tersebut membuat panas terasa lebih menyengat, terutama pada siang hari.

BACA JUGA:Gempa M 7,6 Guncang Bitung: BMKG Terbitkan Peringatan Dini Tsunami, Status Siaga dan Waspada di 10 Wilayah

Tak hanya itu, pengaruh angin muson Australia juga berperan dalam meningkatkan suhu. Angin timuran yang bertiup dari wilayah Australia membawa massa udara kering dan hangat ke Indonesia, yang semakin memperkuat kondisi cuaca panas dan gerah.

Di sisi lain, pemanasan global juga menjadi faktor pendukung yang memperburuk situasi. Kenaikan suhu rata-rata bumi secara global membuat fenomena panas seperti ini terasa lebih ekstrem dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

BMKG memperkirakan kondisi cuaca panas ini masih akan berlangsung seiring dengan semakin dekatnya musim kemarau di sejumlah wilayah Indonesia. Masyarakat pun diimbau untuk lebih waspada terhadap dampak yang ditimbulkan, seperti dehidrasi dan kelelahan akibat panas.

BACA JUGA:BMKG Juanda Wanti-wanti Kemarau 2026 di Jatim, Puncak Agustus dan Risiko Karhutla

Sebagai langkah antisipasi, penting untuk menjaga asupan cairan tubuh, menghindari paparan sinar matahari langsung dalam waktu lama, serta menggunakan pelindung seperti topi atau tabir surya saat beraktivitas di luar ruangan.

Sumber: