Waspada Beras SPHP Oplosan, Peneliti Gizi FKM Unair Ungkap Risiko Kanker hingga Keracunan
Dosen dan Peneliti Departemen Gizi, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga, Mahmud Aditya Rifqi, S.Gz, M.Si, Ph.D--
SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Pengungkapan praktik pengoplosan beras SPHP selama dua tahun di Probolinggo oleh Polda Jatim mengungkap fakta baru.
Beras oplosan tersebut tidak hanya merugikan secara ekonomi, tetapi juga berpotensi mengancam kesehatan masyarakat jika dikonsumsi secara terus-menerus.
BACA JUGA:Warga Probolinggo Palsukan Beras SPHP, Raup Keuntungan Puluhan Juta Rupiah Per Bulan

Mini Kidi Wipes.--
Dosen dan Peneliti Departemen Gizi, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga, Mahmud Aditya Rifqi, S.Gz, M.Si, Ph.D, memberikan peringatan keras terkait risiko mengonsumsi beras yang tidak sesuai standar mutu.

Gempur Rokok Ilegal. Laporkan Peredaran Rokok Ilegal ke Kantor Bea Cukai Malang.--
Menurut Mahmud, risiko kesehatan sangat bergantung pada tindakan pengoplos, jika pengoplosan melibatkan bahan kimia berbahaya seperti klorin (pemutih) atau pewarna tekstil yang dilarang untuk menghilangkan kesan kusam, dampaknya bisa sangat fatal.
"Risiko dapat meningkat menjadi paparan zat toksik dan karsinogenik, dalam jangka panjang, akumulasi zat ini dalam tubuh dapat memicu peningkatan risiko penyakit kanker," ujar Mahmud Aditya, Kamis, 16 April 2026.
Selain zat kimia, beras yang disimpan secara tidak higienis atau lembap sangat rentan ditumbuhi jamur yang menghasilkan mikotoksin.
Senyawa ini dapat menyebabkan gangguan pencernaan, penurunan sistem imunitas, hingga kerusakan organ dalam jika dikonsumsi.
BACA JUGA:Unair Wisuda 2.605 Lulusan Rektor Tekankan Ilmu Harus Sejalan dengan Moral
Masyarakat juga diminta waspada terhadap gejala jangka pendek. Mengonsumsi beras yang terkontaminasi atau nasi yang diolah dari beras bermasalah dapat memicu keracunan makanan.
"Gejala yang muncul biasanya mual, muntah, diare, hingga nyeri perut. Selain itu, penyimpanan nasi yang tidak tepat juga berisiko kontaminasi bakteri Bacillus cereus yang kerap menjadi penyebab keracunan produk berbasis nasi," imbuhnya.
Sumber:







