new idulfitri

Waspada “Godzilla El Nino”, BBKSDA Jatim Petakan Tiga Kawasan Rawan Karhutla

Waspada “Godzilla El Nino”, BBKSDA Jatim Petakan Tiga Kawasan Rawan Karhutla

Kepala BBKSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, mengingatkan adanya potensi kemarau panjang yang rentan akan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). --

SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi perhatian serius menjelang musim kemarau 2026. Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, mengingatkan potensi kemarau panjang yang dipicu fenomena yang disebut "Godzilla El Nino".

BACA JUGA:Antisipasi 'Godzilla El Nino', BPBD Jatim Siapkan Gudang Logistik Modern Berbasis Digital


Mini Kidi Wipes.--

Menurutnya, sejumlah wilayah di Indonesia seperti Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Riau, dan Kalimantan Barat mulai menunjukkan tanda-tanda kebakaran. Namun, Jawa Timur sejauh ini masih relatif aman.

"Kalau di Jawa Timur masih nihil, bahkan tahun lalu juga nihil. Mudah-mudahan bisa terus seperti itu," ujar Patria, Jumat, 10 April 2026.

Meski demikian, ia menegaskan kewaspadaan tetap harus ditingkatkan. Berdasarkan informasi dari BMKG, musim kemarau tahun ini diperkirakan datang lebih awal, yakni mulai April, dan berlangsung lebih panjang dari biasanya.

BACA JUGA:Ketersediaan Jagung hingga Telur Ayam Diproyeksikan Surplus Jelang El Nino


Gempur Rokok Ilegal. Laporkan Peredaran Rokok Ilegal ke Kantor Bea Cukai Malang.--

Diketahui, dari total 26 kawasan konservasi yang dikelola BBKSDA Jatim, terdapat tiga titik yang dinilai paling rawan karhutla, yakni TWA Kawah Ijen, Dataran Tinggi Hyang (Argopuro), dan TWA Gunung Baung.

Kawasan tersebut memiliki karakteristik mudah terbakar, seperti savana kering dan tumpukan seresah (daun kering) yang tinggi. Bahkan, pada 2024 lalu sempat terjadi kebakaran kecil di tiga lokasi tersebut.

"Di Jawa itu skalanya memang kecil, tapi tetap harus diantisipasi karena kondisi bahan bakarnya sangat mudah terbakar," jelasnya.

BACA JUGA:Cadangan Beras Nasional Tertinggi Sepanjang Sejarah, Pemerintah Siap Hadapi El Nino

Patria mengungkapkan, mayoritas kebakaran hutan dipicu oleh aktivitas manusia, baik disengaja maupun tidak. Ia mencontohkan kasus di Gunung Baung, di mana api berasal dari aktivitas pencari madu yang meninggalkan bara di area kering.

"Tidak selalu sengaja, tapi tetap ulah manusia. Bara kecil yang ditinggalkan di atas seresah kering bisa langsung memicu kebakaran," tegasnya.

Sumber: