Pertanian Berbasis Efisiensi Air Jadi Strategi Lumajang Hadapi Kemarau 2026
Yudha Adji Kusuma, Wabup Lumajang memimpin Rakor efisiensi air.--
LUMAJANG, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Wakil Bupati Lumajang, Yudha Adji Kusuma, menegaskan bahwa perlindungan sektor pertanian dan penguatan tata kelola lingkungan menjadi pilar utama dalam strategi adaptasi menghadapi potensi musim kemarau tahun 2026.
Langkah ini dinilai krusial untuk menjaga stabilitas pangan sekaligus memastikan keberlanjutan ekosistem di tengah tekanan perubahan iklim.

Mini Kidi Wipes.--
Menurutnya, sektor pertanian tidak hanya berperan sebagai penyokong ekonomi masyarakat, tetapi juga menjadi garda terdepan dalam menjaga ketahanan pangan daerah. Oleh karena itu, pendekatan adaptasi tidak lagi bersifat konvensional, melainkan harus berbasis risiko, data iklim, dan inovasi.
“Pertanian harus bergerak menuju sistem yang adaptif dan efisien, mulai dari penyesuaian pola tanam, pemilihan varietas tahan kekeringan, hingga optimalisasi penggunaan air,” ujarnya dalam Rapat Koordinasi Penanganan Dampak Hidrometeorologi di Jawa Timur, Selasa (7/4/2026).
BACA JUGA:Pemkab Lumajang Gaungkan Jargon Lebaran Minim Sampah, Wujudkan Lingkungan Sehat
Mengacu pada prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, periode kemarau diperkirakan berlangsung pada pertengahan hingga akhir tahun 2026, dengan potensi peningkatan intensitas kekeringan di sejumlah wilayah. Kondisi ini menjadi dasar bagi Pemerintah Kabupaten Lumajang untuk memperkuat strategi mitigasi yang lebih terarah dan terukur.
Upaya yang dilakukan tidak hanya terbatas pada optimalisasi jaringan irigasi, tetapi juga mencakup modernisasi sistem pertanian melalui pemanfaatan teknologi, seperti irigasi hemat air dan pengelolaan lahan berbasis efisiensi. Dengan pendekatan ini, produktivitas pertanian diharapkan tetap terjaga meskipun menghadapi keterbatasan sumber daya air.
Di sisi lain, pengelolaan lingkungan diperkuat sebagai bagian integral dari strategi adaptasi. Pemerintah daerah meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi degradasi lahan, kebakaran hutan, serta penurunan kualitas ekosistem yang dapat memperburuk dampak kemarau. Pendekatan ini dilakukan melalui koordinasi lintas sektor serta penguatan peran masyarakat dalam menjaga lingkungan secara berkelanjutan.
BACA JUGA:9 PMI di Arab Saudi Dipastikan Dalam Perlindungan, Ini Himbauan Pemkab Lumajang
Mas Yudha menekankan bahwa keseimbangan antara kebutuhan pembangunan dan kelestarian lingkungan menjadi kunci dalam menjaga daya dukung wilayah. Tanpa pengelolaan lingkungan yang baik, tekanan terhadap sumber daya alam justru akan memperbesar risiko yang dihadapi masyarakat.
“Adaptasi bukan hanya soal bertahan, tetapi bagaimana kita memastikan lingkungan tetap terjaga dan masyarakat tetap sejahtera dalam jangka panjang,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya membangun kesadaran kolektif bahwa pengelolaan sumber daya alam merupakan tanggung jawab bersama. Partisipasi aktif masyarakat menjadi faktor penentu dalam memperkuat efektivitas kebijakan di tingkat lapangan.
Sumber:







