new idulfitri

Film Akal Imitasi Angkat Sisi Gelap AI di Dunia Pendidikan

Film Akal Imitasi Angkat Sisi Gelap AI di Dunia Pendidikan

Kegiatan big reading film Akal Imitasi bersama produser dan kru.--

SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID – Rumah produksi DL Entertainment menghadirkan film Akal Imitasi yang mengangkat dampak kecerdasan buatan terhadap dunia pendidikan dan cara belajar manusia di era digital, Selasa 7 April 2026.

Proyek film ini memasuki tahap produksi setelah digelar syukuran dan big reading pada akhir Maret 2026.


Mini Kidi Wipes.--

Seluruh kru dan pemain terlibat dalam proses pendalaman karakter sebelum syuting dimulai awal April.

Associate Produser, Bagus Hariyanto, mengatakan film ini hadir sebagai kritik sosial yang relevan dengan kondisi saat ini.

"Hari ini kita hidup di era serba instan. AI memudahkan segalanya, tapi perlahan kita kehilangan proses berpikir. Film ini ingin mengingatkan bahwa tidak semua hal bisa digantikan oleh teknologi," ujar Bagus, Selasa 7 April 2026.

BACA JUGA:Mengenal Lilis Suryani, Sang Legenda Musik Era 60-an yang Kembali Mengalun Lewat Film Na Willa

Ia menambahkan kegelisahan utama film ini berangkat dari realitas yang kini mulai dirasakan masyarakat.

"Pertanyaannya sederhana, tapi penting: apakah kita masih benar-benar belajar, atau hanya mengandalkan mesin untuk berpikir. Kalau itu terus terjadi, kita bisa kehilangan jati diri sebagai manusia pembelajar," tegasnya.

Cerita film berlatar tahun 2029 dengan sistem pembelajaran berbasis AI bernama PIKO yang diterapkan di sekolah.

BACA JUGA:Rekomendasi 10 Film Anak Indonesia Edukatif Karya Anak Bangsa

Teknologi tersebut memunculkan kesenjangan baru antara siswa dengan akses premium dan siswa lainnya.

Di tengah kondisi tersebut, muncul sosok Rafi, AI humanoid ilegal yang mengajarkan cara berpikir, bukan sekadar memberi jawaban instan.

Konflik berkembang ketika teknologi yang semula membantu manusia justru mengancam esensi pendidikan.


Gempur Rokok Ilegal. Laporkan Peredaran Rokok Ilegal ke Kantor Bea Cukai Malang.--

Penulis naskah, Chairul Rijal Juanda, mengatakan cerita ini dibangun untuk menggugah kesadaran penonton.

"Kami ingin penonton merasa dekat dengan cerita ini, karena ini bukan masa depan yang jauh. Ini sedang terjadi, hanya skalanya yang belum sebesar di film," ungkapnya.

Sementara itu, sutradara, Zhaddam A Nurdin, menekankan pentingnya pesan moral dalam film tersebut.

BACA JUGA:Review Film Warung Pocong, Horor Lokal yang Bikin Tegang Sekaligus Ketawa

"Teknologi itu alat, bukan pengganti manusia. Dalam film ini, kami ingin menunjukkan bahwa empati, proses berpikir, dan pemahaman adalah hal yang tidak bisa direplikasi oleh AI," tukasnya.

Melalui film ini, DL Entertainment menghadirkan refleksi tentang pentingnya menjaga kemampuan berpikir kritis di tengah perkembangan teknologi. (Ain)

Sumber: