new idulfitri

Dinkes Jatim Klaim Kasus Campak Awal 2026 Menurun Dibanding 2025

Dinkes Jatim Klaim Kasus Campak Awal 2026 Menurun Dibanding 2025

Ilustrasi penurunan kasus campak di Jawa Timur pada awal 2026 menurut Dinkes Jatim.--

SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID – Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur mencatat penurunan kasus suspek campak pada triwulan pertama 2026 dibanding periode yang sama 2025.

Kepala Dinas Kesehatan Jatim, Prof Erwin Astha Triyono menegaskan, capaian ini menjadi sinyal positif, namun kewaspadaan tetap perlu dijaga melalui imunisasi dan penerapan pola hidup bersih dan sehat (PHBS).

"Penurunan ini menunjukkan upaya pencegahan berjalan, tetapi masyarakat tidak boleh lengah. Imunisasi dan deteksi dini tetap menjadi kunci," ujar Erwin.

BACA JUGA:Berkah MBG, Kelompok Tani Wanita di Karanganyar Lebih Mudah Salurkan Panen Sayuran

Berdasarkan data Dinkes Jatim, jumlah suspek campak Januari hingga Maret 2026 tercatat 1.161 kasus, menurun dibanding periode sama 2025 yang mencapai 2.066 kasus.


Mini Kidi Wipes.--

Rinciannya, Januari 2026 sebanyak 599 kasus, Februari 376 kasus, dan Maret 186 kasus. Hingga saat ini belum ditemukan kasus campak terkonfirmasi maupun laporan kematian.

Campak merupakan penyakit menular akibat virus yang menyebar melalui percikan ludah saat penderita batuk atau bersin. Gejalanya meliputi demam di atas 38 derajat Celsius, ruam kulit, batuk, pilek, serta mata merah.

Dalam penanganannya, pasien dianjurkan menjalani isolasi dan terapi simtomatis, termasuk pemberian vitamin A sebanyak dua dosis sesuai usia.


Gempur Rokok Ilegal -----

Erwin menambahkan, pencegahan menjadi prioritas utama melalui penerapan PHBS, seperti konsumsi makanan bergizi, mencuci tangan, menjaga kebersihan lingkungan, istirahat cukup, serta menggunakan masker saat sakit.

Selain itu, imunisasi campak rubela bagi bayi, balita, dan anak usia sekolah harus dipastikan lengkap.

"Masyarakat juga kami imbau segera datang ke fasilitas pelayanan kesehatan jika menemukan gejala campak agar dapat ditangani lebih cepat dan mencegah penularan," pungkasnya.

Dinkes Jatim optimistis tren penurunan ini dapat terus dipertahankan sepanjang 2026 melalui penguatan imunisasi dan edukasi kesehatan masyarakat. (ain)

 

Sumber: