350 Balita di Desa Ringinpitu Jadi Sasaran ORI, Suspek Campak di Tulungagung Capai 44 Kasus
Pelaksanaan ORI bagi balita Desa Ringinpitu.--
TULUNGAGUNG, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung mencatat adanya temuan kasus suspek campak pada awal tahun 2026. Hingga saat ini, tercatat 44 kasus suspek, dengan satu kasus positif di Januari lalu yang telah dinyatakan sembuh.
Hal ini disampaikan oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Tulungagung, dr Aris Setiawan.
BACA JUGA:Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Surat Edaran Kewaspadaan Campak untuk Tenaga Medis & Kesehatan

Mini Kidi Wipes.--
Aris memastikan kondisi tersebut masih terkendali dan belum mengarah pada situasi yang mengkhawatirkan.
“Update bulan Maret ada 44 suspek. Untuk yang positif hanya satu dan itu sudah sembuh. Kita temukan yang positif itu pada awal tahun. Saat ini semuanya masih dalam kategori suspek,” terangnya, Rabu 1 April 2026.
BACA JUGA:Kasus Campak di RI Terus Menurun hingga 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026
Sebagai langkah respons cepat, Dinkes Tulungagung menggelar Outbreak Response Immunization (ORI) di Desa Ringinpitu, Kecamatan Kedungwaru. Walaupun sebenarnya sesuai rekomendasi dari WHO, Kabupaten Tulungagung tidak perlu melakukan ORI, cukup melakukan imunisasi kejar.
ORI merupakan upaya pemberian imunisasi kepada seluruh balita tanpa memandang status imunisasi yang didapatkan sebelumnya. Sedangkan imunisasi kejar adalah pemberian imunisasi kepada balita yang status imunisasinya belum lengkap, dalam hal ini yang dimaksud adalah imunisasi campak.
Aris mengungkapkan, desa Ringinpitu dipilih karena jumlah kasus suspek yang relatif lebih tinggi dibandingkan daerah lain. Sehingga 350 balita di Desa Ringinpitu menjadi sasaran ORI. Sedangkan untuk wilayah desa lain, pihaknya hanya menyasar balita yang status imunisasinya belum lengkap saja.
“Kalau rekomendasi dari WHO sebenarnya untuk Tulungagung cukup kejar imunisasi campak saja, dengan melihat status imunisasi sebelumnya. Tapi khusus di Ringinpitu, kita lakukan ORI dengan sasaran 350 balita tanpa melihat status imunisasi,” ungkapnya.
Ia menambahkan, pada tahun sebelumnya tercatat sekitar 20 kasus suspek dengan satu kasus positif campak. Penyakit ini disebabkan oleh virus, namun dapat dicegah secara efektif melalui imunisasi.
“Upaya yang kita lakukan adalah imunisasi kejar, agar bisa memproteksi balita dan memperkuat kekebalan kelompok di lingkungan mereka,” imbuhnya.
Sumber:







