Tak Dilengkapi Halte, Warga Basah Kuyup Menanti Suroboyo Bus di Dharmahusada
Warga menunggu kedatangan Suroboyo Bus di halte Jalan Dharmahusada.--
SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Harapan warga untuk beralih ke transportasi umum tampaknya masih terganjal oleh fasilitas pendukung yang jauh dari kata layak. Di balik megahnya armada Suroboyo Bus yang modern dan ramah lingkungan, sejumlah halte masih dibangun ala kadarnya.
Salah satu pemandangan ironis terlihat di kawasan Jalan Dharmahusada, tepatnya di pemberhentian bus di dekat Kampus B Universitas Airlangga (Unair). Di titik ini, fasilitas yang tersedia hanyalah sebuah tiang penanda bus stop yang berdiri di atas trotoar. Tidak ada atap untuk berteduh, apalagi kursi.
BACA JUGA:Integrasi Trans Jatim dan Suroboyo Bus Buntu, Kadishub Nyono: Kami Masih Menunggu Respons

Mini Kidi Wipes.--
Kondisi ini memaksa para calon penumpang untuk bersahabat dengan cuaca ekstrem. Jika matahari sedang terik, mereka harus rela terpanggang. Sedang saat hujan turun, berpotensi basah kuyup.
“Kalau hujan, ya wassalam. Pilihannya cuma dua. Basah kuyup karena maksa nunggu di titik bus stop, atau cari emperan toko yang jaraknya lumayan jauh. Masalahnya, kalau kita nunggu agak jauh, takutnya bus lewat dan sopir nggak lihat kalau ada penumpang," keluh Rizky Ramadhani (21), seorang mahasiswa yang rutin menggunakan Suroboyo Bus, Kamis, 5 Maret 2026.
BACA JUGA:Pelecehan Siswi SMP di Suroboyo Bus, DPRD Siap Beri Perlindungan Penuh

Gempur Rokok Illegal--
Guna mengantisipasi kondisi tersebut, Rizky lantas sedia payung sebelum hujan. Ia sengaja membawa payung jika sewaktu-waktu hujan turun tatkala menunggu Suroboyo Bus.
“Bawa payung karena nggak ada haltenya. Teman-teman yang mengandalkan transportasi ini juga begitu,” tandasnya.
BACA JUGA:Terduga Pelaku Pelecehan pada Siswi SMP di Suroboyo Bus Sempat Diamankan Polisi
Keluhan senada datang dari kelompok masyarakat lanjut usia yang merasa keamanan dan kenyamanan mereka terabaikan. Sumiyati (62), warga asal Gubeng yang sering bepergian menggunakan bus untuk kontrol ke rumah sakit, menyayangkan minimnya empati dalam penyediaan fasilitas fisik halte.
“Buat orang tua seperti saya, berdiri 15 sampai 20 menit itu kaki sudah gemetar semua. Masa iya kota sebesar Surabaya nggak bisa menyediakan kursi semen saja di sini? Kami sudah mau pakai transportasi umum, tapi tolonglah, fasilitas dasarnya dimanusiakan," tuturnya.
BACA JUGA:Ini Penuturan Saksi Pelecehan Siswi SMP di Suroboyo Bus
Sumber:




