Dua Kasus Bullying Mencuat, Status Surabaya Kota Layak Anak Jadi Sorotan
CA (kiri) dan AM (kanan), anak di bawah umur yang jadi korban perundungan teman sekolahnya--
SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY - Kasus perundungan (Bullying) di dunia pendidikan di Kota Pahlawan perlahan muncul ke permukaan. Ini menjadi tugas stakeholder terkait demi benar-benar mewujudkan kota ini sebagai Kota Layak Anak.
Kasus yang paling menyita perhatian berbagai pihak adalah perundungan yang dialami CA. Gadis berusia 13 tahun asal Simokerto ini dirundung oleh sedikitnya tujuh teman sebayanya. Kasus ini terungkap setelah satu pelaku ada yang mengunggah video perundungan itu ke WhatsApp Story.

Mini Kidi Wipes.--
Lucia, pendamping hukum CA bercerita, dampak perundungan yang ditimbulkan terhadap korban sangat dahsyat. CA yang dulunya dikenal gadis ceria kini berbeda sekali dengan sikap aslinya. Dia masih trauma. Apalagi di tempat ramai, dia sangat terlihat tak pernah tenang.
"Kalau tertekan itu sudah pasti. Dia itu anak yang ceria, dan kejadian itu membuat dia ketakutan. Dia lama sudah gak sekolah. Kurang lebih dua mingguan setelah itu baru mau sekolah. Kejadian terakhir itu tanggal 30 Desember 2026," katanya, Senin 23 Februari 2026.
BACA JUGA:Polisi Edukasi Antibullying dan Bahaya Pergaulan Bebas

Gempur Rokok Illegal--
Ternyata, perundungan pada 30 Desember 202t itu merupakan yang keenam kalinya CA alami. Kini korban masih harus menjalani perawatan psikologi secara mandiri di Rumah Sakit (RS) National Hospital. Sedikitnya dia sudah enam kali menjalani terapi dengan psikolog.
"Dua kali saya bertemu dia, masih belum ada kemajuan spesifik. Anak ini minta pindah sekolah. Saya bilang sama orangtuanya untuk dipindahkan aja. Korban pasti malu. Sudah enam atau tujuh kali dia ke psikolog tapi sampai sekarang belum ada perubahan signifikan," ungkapnya.
BACA JUGA:Viral Video Bullying Anak, Pemkot Surabaya Gerak Cepat Dampingi Korban hingga Psikiater
Lucia menduga, korban masih trauma lantaran jarak waktu yang tidak jauh: Desember-Februari sangat dekat, perundungan yang dia alami masih membekas. Apalagi dia masih harus ke kantor polisi, dan ditambah semua orang di lingkungan rumahnya itu mengetahui.
"Pasti malu, berat, dan pengaruh sekali. Tapi pasti nanti pindah sekolah kok. Nanti Senin tanggal 23 Februari 2026 saya ketemu lagi sama dia," terangnya.
BACA JUGA:Dugaan Bullying di SDN Keputih 245 Surabaya Dipastikan Tidak Terbukti
Sumber:




