selamat menunaikan ibadah ramadan 2026

Perjalanan Fransiskus Hermawan Priyono Menjadi Imam Keluarga, Tangis Bahagia di Sajadah Subuh

Perjalanan Fransiskus Hermawan Priyono Menjadi Imam Keluarga, Tangis Bahagia di Sajadah Subuh

Fransiskus Hermawan Priyono atau akrab disapa Wawan bersama istri tercinta dan dua putranya.-Faisal Danny-

TEPAT 14 tahun silam, Fransiskus Hermawan Priyono membulatkan tekad untuk mengambil sebuah langkah besar dalam hidupnya.

Pria yang akrab disapa Wawan ini memutuskan untuk memeluk agama Islam. Sebuah titik balik yang mengubah garis spiritualitasnya setelah sembilan tahun lamanya menjalani biduk rumah tangga dalam perbedaan keyakinan yang harmonis bersama sang istri.

Langkah menuju mualaf bukanlah perkara instan bagi Wawan. Meski restu orang tua telah dikantongi, ia tak lantas terburu-buru. Wawan melewati masa perenungan yang panjang hingga akhirnya pada 2011, ia merasa mantap untuk memeluk Islam secara kaffah.

BACA JUGA:Transformasi Keyakinan Berliana Murphi, Dari Keraguan Menuju Kemantapan Berislam

Momen sakral itu terjadi di Masjid Al-Akbar Surabaya. Di bawah bimbingan Prof Ahmad Zahro, Wawan bersiap mengikrarkan dua kalimat syahadat. Ada rasa heran yang sempat menyelinap di benaknya saat itu; suasana masjid yang biasanya riuh mendadak sunyi senyap.

Namun, keajaiban kecil terjadi saat prosesi dimulai. Masjid yang sepi tiba-tiba dipenuhi jemaah yang datang entah dari mana, berkumpul tanpa komando untuk menjadi saksi sejarah hidupnya.

"Usai saya mengucap syahadat mereka memeluk dan menciumi saya memberikan selamat,” kenang Wawan saat menceritakan kembali awal mula perjalanan mualafnya.

Status baru sebagai seorang Muslim nyatanya membawa tantangan tersendiri. Wawan mengaku sempat merasa kaku. Ada ganjalan besar di hatinya, terutama mengenai tata cara dan doa salat yang belum sepenuhnya ia kuasai. 

Padahal, bagi Wawan, salat adalah prioritas utamanya setelah bersyahadat. Ia menyimpan satu ambisi mulia yang ingin ia wujudkan sebagai seorang kepala keluarga.

"Keinginan besar saya, adalah bisa segera menjadi imam salat di rumah. Memimpin istri dan dua anak saya salat berjemaah," tegas Wawan.

Demi mewujudkan impian tersebut, Wawan memilih jalan sunyi. Ia sengaja menyembunyikan proses belajarnya agar kelak bisa menjadi kado terindah bagi sang istri yang selama ini tidak mengetahui proses kepindahannya.

BACA JUGA:Merinding Baca Syahadat, Kisah Perjalanan Spiritual Angga Wibisono Jadi Mualaf

Secara bertahap, ia mengikuti salat jemaah rutin di masjid sambil menghafal doa-doa. Di rumah pun, ia menjalankan ibadah dengan penuh kerahasiaan.

“Saya ingin istri tahu saya bisa salat, saya bisa ngimami dia dan anak-anak sebagai kejutan ke dia. Saya berusaha keras untuk bisa salat. Jadi sebelum istri saya tahu, di rumah saya salatnya sembunyi-sembunyi,” ucapnya mengenang masa-masa perjuangan itu.

Sumber: