Dua Bulan Batasi Gawai di Sekolah, Siswa Lebih Interaktif

Dua Bulan Batasi Gawai di Sekolah, Siswa Lebih Interaktif

pelajar di Surabaya.--

SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Kebijakan Pemkot Surabaya membatasi penggunaan gawai di lingkungan sekolah mulai membuahkan hasil manis. Genap dua bulan kebijakan tersebut berjalan, atmosfer pendidikan di kota ini diklaim menjadi lebih hidup dan interaktif. 

Langkah preventif yang melibatkan kolaborasi antara murid, guru, dan wali murid ini diambil untuk membentengi anak-anak dari paparan konten digital negatif serta media sosial yang tidak sesuai usia.

"Alhamdulillah dengan pembatasan gawai ini, pelaksanaan pendidikan di sekolah semakin interaktif antara guru dan murid. Intinya, pembatasan ini kita gunakan untuk membuat karakter kedisiplinan anak jadi bagus," ujar Wali Kota Eri Cahyadi

BACA JUGA:Fokus Siswa Swasta, Pemkot Surabaya Kucurkan Bansos Pendidikan Rp 350 Ribu


Mini Kidi--

Dampak paling nyata terlihat pada perubahan perilaku sosial siswa saat jam istirahat maupun di dalam kelas. Fenomena siswa yang menyendiri atau asyik dengan dunianya sendiri lewat layar ponsel kini drastis berkurang. Ruang-ruang kelas yang dulunya sepi interaksi kini kembali hidup.

"Bisa kita lihat di Surabaya, kasus bullying, kasus anak yang diam seperti minder yang biasanya main HP sendiri di ujung kelas, sekarang sudah mulai tidak ada. Sehingga ada interaksi," katanya. 

BACA JUGA:Antisipasi Super Flu H3N2, Pemkot Surabaya Terbitkan SE Kewaspadaan Dini

Eri menegaskan, kebijakan ini tidak hanya diterapkan pada siswa, para guru juga dikenakan aturan serupa untuk memberikan keteladanan. Kebijakan ini dinilai menciptakan rasa aman, meningkatkan fokus belajar, dan memfilter konten yang tidak dibutuhkan anak.

Terkait respons wali murid, Eri menyebut sambutannya sangat positif. Pemkot telah melakukan sosialisasi intensif dengan mengumpulkan orang tua dan guru di setiap kelas. Namun, ia mengakui tantangan terbesar justru datang dari literasi digital orang tua yang sering kali tertinggal dibanding anak-anaknya.

"Bapak-Ibu, HP tidak bisa menggantikan peran orang tua. Tolong dilihat cara anak buka HP, buka history-nya, karena banyak orang tua yang tidak pernah melakukan itu," pesannya.

BACA JUGA:Gaji Ortu Rp20 Juta Dapat Beasiswa Pemuda Tangguh, Evaluasi Pemkot Surabaya Temukan 70 Persen Salah Sasaran

Menurut Eri, pengawasan di sekolah tidak akan maksimal tanpa pendampingan di rumah. Ia menekankan bahwa tanggung jawab pendidikan karakter adalah sinergi antara pemerintah, guru, dan orang tua.

"Kami membutuhkan peran orang tua. Karena tidak bisa murid ini hanya dibatasi di sekolah, tapi harus dijaga di dalam rumahnya," imbuhnya.

Sumber:

Berita Terkait