Gandeng Jepang, PMI Jember Integrasikan Edukasi Kebencanaan ke Dalam Kurikulum Sekolah

Gandeng Jepang, PMI Jember Integrasikan Edukasi Kebencanaan ke Dalam Kurikulum Sekolah

Siswa-siswi SDN 01 Kepanjen saat mengikuti simulasi dan edukasi kebencanaan. Program ini melatih siswa agar mampu melakukan tindakan preventif dan membantu rekan sekolah saat situasi darurat terjadi.--

JEMBER, MEMORANDUM.DISWAY.ID – Budaya siaga bencana di Kabupaten Jember kini naik kelas. Tidak lagi sekadar kegiatan ekstrakurikuler, kesiapsiagaan bencana resmi diintegrasikan ke dalam inti pembelajaran kelas melalui program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPaB).

Langkah inovatif ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara Japanese Red Cross Society (JRCS) dan PMI Kabupaten Jember melalui program School Climate Resilience (SCR). Pilot project ini telah dimulai di sejumlah sekolah di Kecamatan Gumukmas dan Puger, termasuk SMPN 1 Gumukmas dan SDN 01 Kepanjen.

BACA JUGA:PMI Jember Bahas Isu Sensitif hingga Bilik Asmara di Posko Pengungsian


Mini Kidi--

Kini, edukasi kebencanaan tidak berdiri sendiri, melainkan menyatu dengan mata pelajaran. Di kelas IPA, siswa mendalami mekanisme tektonik pemicu gempa, sementara di kelas Bahasa Indonesia, mereka dilatih berkomunikasi efektif dalam menyampaikan informasi darurat.

Kepala SDN 01 Kepanjen, Irwan Aditya, menegaskan bahwa integrasi ini sangat krusial mengingat kondisi geografis Jember yang memiliki risiko bencana tinggi.

BACA JUGA:Aksi Cepat Tanggap PMI Jember: Evakuasi Pohon Tumbang di Kantor PMII

"Kami ingin siaga bencana menjadi budaya, bukan sekadar hafalan. Dengan memasukkannya ke mata pelajaran, siswa belajar secara konsisten tanpa merasa terbebani materi tambahan," ungkap Irwan, Selasa 27 Januari 2026.

Hal senada disampaikan Waka Kesiswaan SMPN 1 Gumukmas, Muhammad Sofyan Tsauri. Ia menekankan bahwa program ini fokus pada penguatan mentalitas dan tindakan preventif siswa.

"Anak-anak dididik untuk tahu ke mana harus berlari dan bagaimana membantu rekan mereka. Ini adalah investasi jangka panjang untuk keselamatan mereka," jelasnya.

BACA JUGA:Misi Kemanusiaan, Relawan PMI Jember Pasok Puluhan Ribu Liter Air Bersih ke Lokasi Bencana Aceh

Program SCR ini memiliki tiga pilar utama. Adaptif: Materi disesuaikan dengan jenjang usia siswa. Kolaboratif: Melibatkan guru, siswa, hingga wali murid. Berkelanjutan: Masuk ke dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sebagai standar tahunan.

Melalui kemitraan internasional ini, sekolah-sekolah di pesisir selatan Jember tersebut diharapkan menjadi role model bagi sekolah lain di Indonesia dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, tangguh, dan tanggap bencana.(edy)

Sumber:

Berita Terkait