Terpaksa Rujuk demi Gono Gini: Rujuk Tapi Batin Tersiksa (2)
-Ilustrasi-
SUDAH dua bulan sejak Bintang dan Bulan resmi rujuk. Dokumen rujuk sudah ditandatangani di KUA. Keluarga besar menyambutnya seolah itu kemenangan. Bahkan ibunda Bintang menepuk bahu menantunya dan berkata, “Akhirnya kalian sadar. Rumah tangga itu butuh perjuangan, bukan gengsi.”
Tapi tidak ada yang tahu: rujuk itu bukan karena cinta, melainkan karena gono-gini.

Mini Kidi--
Bulan kini tinggal lagi di rumah lama mereka. Rumah yang pernah ia tinggalkan dengan berlinang air mata, kini kembali ditempatinya dengan hati datar. Tidak ada pelukan hangat. Tidak ada senyum yang tulus saat menyeduh teh pagi. Yang ada hanyalah dua orang dewasa yang saling menjaga peran, agar tetap terlihat utuh di mata luar.
Bintang bersikap seolah semuanya kembali normal. Ia tetap pulang malam, masih sibuk dengan pekerjaannya, dan sesekali menggenggam ponsel dengan senyum aneh saat membalas pesan.
Bulan tahu, ada yang belum berubah.
“Mas, kamu masih komunikasi sama wanita itu?” tanya Bulan suatu malam.
Bintang mendongak. “Wanita mana?”
“Kamu tahu siapa,” ucap Bulan, nadanya dingin.
Bintang tak menjawab. Ia menutup laptopnya dan berdiri. “Kita rujuk buat Ayla. Jangan ungkit yang lalu. Toh kita masih tinggal bareng, masih bisa ngurus bisnis, dan anak kita nggak jadi korban.”
“Tapi kamu nggak pernah benar-benar minta maaf,” lirih Bulan.
“Apa gunanya minta maaf kalau kita sudah balik lagi?” jawab Bintang enteng.
Dan itulah masalahnya. Bagi Bulan, rujuk ini terasa seperti perpanjangan kontrak, bukan pemulihan luka. Ia harus tetap bersikap sopan saat rapat usaha, tetap memanggil Bintang dengan “Mas”, dan tetap tersenyum saat keluarga datang. Padahal di dalam hatinya, amarah masih berkecamuk.
Kadang Bulan bertanya-tanya: Untuk apa semua ini?
Sumber:
