PMI Jember Bahas Isu Sensitif hingga Bilik Asmara di Posko Pengungsian

PMI Jember Bahas Isu Sensitif hingga Bilik Asmara di Posko Pengungsian

Relawan Japanese Red Cross Society (JRCS) dan PMI Kabupaten Jember kala berinteraksi --

JEMBER, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Memasuki hari kedua Pelatihan Manajemen Tanggap Darurat Bencana (MTDB) dan Operasional Posko, Aula PMI Kabupaten Jember menjadi arena diskusi intensif mengenai standarisasi layanan pengungsian yang akuntabel dan beretika. Pelatihan yang merupakan kerja sama antara Japanese Red Cross Society (JRCS) dan PMI Kabupaten Jember pada Sabtu 10 Januari 2026 ini, berfokus pada materi krusial seperti Pelaporan (PMER), Isu Lintas Sektoral, Rencana Operasi, Logistik, serta isu sensitif terkait hak-hak dan perlindungan pengungsi.

​Sesi pagi dibuka oleh Julius Arianus Mbusu yang membedah tuntas Manajemen Tanggap Darurat dan Peran Posko. Julius menekankan bahwa Posko harus berfungsi sebagai "pusat syaraf informasi dan keputusan" saat bencana.

BACA JUGA:Aksi Cepat Tanggap PMI Jember: Evakuasi Pohon Tumbang di Kantor PMII


Mini Kidi--

​"Posko bukan sekadar tempat berkumpul. Kita harus menggarisbawahi pentingnya Alur Komando yang jelas agar tidak terjadi tumpang tindih instruksi, terutama saat masa kritis bencana," tegas Julius.

​Dilanjutkan oleh Lutfil Chakim, peserta dibekali kemampuan Planning, Monitoring, Evaluation, and Reporting (PMER) serta penyusunan Rencana Operasi (Renops). "Komunikasi bencana bukan hanya soal bicara. Ini soal data yang akurat untuk dilaporkan secara akuntabel kepada semua pihak," imbuh Lutfil.

BACA JUGA:Misi Kemanusiaan, Relawan PMI Jember Pasok Puluhan Ribu Liter Air Bersih ke Lokasi Bencana Aceh

​Materi yang paling menyita perhatian adalah Isu Lintas Sektoral yang dibawakan oleh Ahmad Kholik. Sesi ini secara khusus membahas mengenai perlindungan terhadap kelompok rentan dan penegakan kode etik relawan, yang dikenal sebagai Protection, Sexual Exploitation and Abuse (PSEA) atau Pencegahan Kekerasan Seksual dan Eksploitasi.

​Nodoka, perwakilan JRCS dari Jepang, dan Awaludin, perwakilan JRCS di Indonesia, turut mengamati jalannya pelatihan. Awaludin secara khusus menekankan pentingnya safeguarding (perlindungan).

​"Isu lintas sektor sangat banyak. Kita harus memastikan adanya safeguarding dalam setiap layanan. Saya menyarankan penggunaan banner atau poster yang menegaskan bahwa PMI sangat anti terhadap segala bentuk eksploitasi. Kita harus akuntabel terhadap komunitas (CEA/Community Engagement and Accountability)," ujar Awaludin.

BACA JUGA:Semangat Hari Ibu, PMI Jember Fokus Normalisasi Air Bersih Bagi Warga Terdampak Banjir di Gladak Kembar

​Ahmad Kholik menambahkan bahwa menjaga etika antara relawan dan penerima manfaat (pengungsi) adalah harga mati. Ia memperingatkan agar tidak terjadi hubungan asmara antara petugas dan mereka yang sedang dalam kondisi rentan.

​Salah satu poin krusial dan inovatif yang dibahas dalam manajemen pengungsian adalah penyediaan "Bilik Asmara" atau Bilik Keluarga (Family Time). Konsep ini merupakan evolusi dari model barak pengungsian tradisional.

​Jika dahulu satu barak diisi oleh banyak keluarga tanpa sekat (seperti model saat Tsunami Aceh), kini PMI mengedepankan konsep Family Time.

Sumber:

Berita Terkait