Liburan Terlarang di Pulau Dewata: Pilihan yang Menentukan (3)

Liburan Terlarang di Pulau Dewata: Pilihan yang Menentukan (3)

-Ilustrasi-

BULAN berdiri di depan cermin, memandangi wajahnya sendiri. Mata yang dulu bersinar kini lebih sering redup. Tapi di balik redup itu, ada ketegasan yang mulai tumbuh. Ia bukan lagi istri yang hanya menunggu dan memaklumi.

Di sisi lain, Bintang duduk sendiri di taman belakang, menatap bintang-bintang malam. Ironis. Namanya Bintang, tapi hatinya sedang gelap. Ia tahu, kesalahannya bukan sekadar tentang sebuah perjalanan ke Bali atau hubungan terlarang dengan Sunny. Tapi tentang bagaimana ia mengkhianati kepercayaan, merobek rumah yang ia bangun bersama Bulan.


Mini Kidi--

Suatu malam, Bulan menyodorkan selembar kertas.

“Apa ini?” tanya Bintang gugup.

“Bukan surat cerai. Bukan juga permohonan pisah rumah. Ini daftar pertanyaan yang harus kamu jawab jujur ke dirimu sendiri,” kata Bulan tenang. “Aku sudah melalui masa menangis. Sekarang aku ingin tahu, kita ini mau ke mana?”

Bintang membaca pertanyaannya:

• Apakah kamu masih mencintaiku, atau hanya menggenggam rasa bersalah?

• Jika tak ada anak-anak, apakah kamu tetap bertahan?

• Apakah kamu mampu jujur tanpa didesak?

Ia tak bisa menjawab satu pun malam itu. Tapi pagi harinya, ia meletakkan secarik kertas kecil di meja makan.

“Aku memang salah. Aku terluka oleh rutinitas, tapi memilih luka yang lebih besar dengan mengkhianatimu. Aku tidak akan menyalahkan kamu kalau ingin pergi. Tapi aku ingin memperbaiki. Kalau kamu masih memberiku kesempatan.”

Bulan membaca itu dengan mata berkaca-kaca. Tidak ada yang lebih menyakitkan dari pernikahan yang harus diperjuangkan sendirian. Tapi juga tidak ada yang lebih kuat dari wanita yang sudah terluka, lalu bangkit tanpa menunggu disembuhkan.

Tiga bulan berlalu. Sunny menghilang dari hidup Bintang tanpa drama. Ia tahu, cinta yang dibangun dari rahasia hanya akan menyakitkan semua pihak. Ia juga sadar, kadang cinta tak cukup untuk menghapus dosa.

Sumber: