Pesta Pasti Berakhir

Pesta Pasti Berakhir

Fatkhul Aziz--

Mungkin di sebuah sudut pasar yang becek, atau dari corong pelantang suara yang sudah tua, kita mendengar suara itu lagi: sebuah bariton yang liat, mendayu, namun membawa sebentuk maklumat yang dingin. Rhoma Irama, pada 1991, menyanyikan sebuah memento mori yang sederhana namun menggetarkan: Pesta pasti berakhir.

Ada semacam asketisme yang ganjil dalam lirik itu. Di tengah deru pembangunan Orde Baru yang sedang ranum-ranumnya saat itu, Rhoma mengingatkan tentang "rumah megah" dan "mobil mewah" yang kelak akan luruh menjadi debu. Namun hari ini, tiga dasawarsa kemudian, lagu itu tidak lagi hanya terdengar sebagai nasihat moral seorang pendakwah musik. Ia terdengar seperti sebuah ramalan ekologi yang mencekam.

BACA JUGA:Super Flu


Mini Kidi--

Kita sedang berada di puncak pesta itu. Sebuah pesta yang riuh, di mana lampu-lampunya adalah api yang membakar hutan, dan musiknya adalah deru mesin ekskavator yang mengeruk perut bumi. Kita seakan-akan percaya bahwa Bumi adalah sebuah botol anggur yang tak kunjung kering, bahwa hutan adalah sekadar tumpukan kayu yang menunggu dikonversi menjadi angka-angka di bursa saham.

Manusia, dalam keserakahannya yang purba, telah mengubah dunia menjadi sebuah ruang perjamuan yang ganas. Hutan dibabat, bukan untuk memberi ruang bagi kehidupan, melainkan untuk memuaskan syahwat konsumsi yang tak pernah kenyang. Kita mengeruk isi bumi, melubangi tanah hingga ke saraf-sarafnya yang paling dalam, lalu terperangah ketika alam membalas dengan banjir, longsor, dan iklim yang meradang. Kita lupa bahwa dalam tiap inci tanah yang kita rampas, ada keseimbangan yang kita patahkan.

BACA JUGA:Perjalanan Penuh Perjuangan

Dan pesta ini tidak hanya berlangsung di tingkat domestik. Di panggung global, kita melihat bagaimana "undangan pesta" dipaksakan melalui moncong senjata dan sanksi ekonomi.

Lihatlah apa yang terjadi pada Venezuela. Di sana, di bawah tanahnya yang kaya, tersimpan cadangan minyak yang memikat mata para raksasa. Amerika, dengan jubah demokrasi yang seringkali tampak kebesaran, mencoba mengatur siapa yang berhak memegang kunci gudang kekayaan itu. Ada aksi saling caplok, ada invasi terselubung, ada ambisi untuk menguasai apa yang bukan miliknya. Di sana, politik internasional bukan lagi soal diplomasi, melainkan soal siapa yang paling kuat merampas piring orang lain di tengah meja perjamuan.

Dunia, tulis Rhoma, hanyalah "ladang tempat bertanam." Sebuah persinggahan.

Namun, manusia modern tampaknya ingin menetap selamanya. Kita membangun peradaban di atas fondasi yang rapuh, seolah-olah sumber daya alam adalah keabadian. Kita merayakan kemajuan dengan cara merusak rumah kita sendiri. Kita lupa bahwa setiap pesta yang terlalu bising, setiap pesta yang dibangun dari keringat dan air mata mereka yang terpinggirkan, serta dari luka alam yang menganga, akan selalu menemui ujungnya.

BACA JUGA:Nataru Penuh Haru

Pesta itu akan berakhir bukan karena lampu-lampunya dipadamkan dengan sengaja, melainkan karena rumah tempat kita berpesta itu sendiri mulai runtuh.

Ketika hutan terakhir telah tumbang dan sungai terakhir telah menjadi racun, barulah kita sadar bahwa emas dan minyak tidak bisa dimakan. Di saat itulah, lirik Rhoma akan bergema kembali, kali ini bukan sebagai lagu, melainkan sebagai nisan bagi sebuah peradaban yang mabuk: Dunia bukanlah tujuan.

Sumber: