Menonton MU Tanpa Rasa Takut
Manchester United baru saja ditinggalkan pelatih Ruben Amorim.-IG Manchester United.-
Catatan Khusus Bola: Eko Yudiono, wartawan Memorandum
Manchester United kembali berada di titik yang sangat mereka kenal: masa transisi. Ruben Amorim sudah pergi. Bukan dengan air mata, bukan pula dengan kepala tertunduk.
Ia pergi dengan kompensasi ratusan miliar rupiah dan meninggalkan banyak tanda tanya di Old Trafford.
Di atas kertas, Amorim datang dengan reputasi mentereng. Sukses di Portugal. Filosofi jelas. Intensitas tinggi. Sepak bola modern. Namun sepak bola Inggris bukan papan tulis.
Premier League adalah medan tempur. Dan MU adalah klub dengan tekanan yang tidak manusiawi.
Hasilnya? Naik turun. Sangat naik, lalu jatuh bebas. MU di era Amorim seperti roller coaster rusak. Kadang tampil meyakinkan, lalu tiba-tiba limbung tanpa arah.
Menang besar di satu laga, lalu tak berkutik di pertandingan berikutnya. Konsistensi hilang. Identitas tak kunjung jadi.
Masalah klasik kembali muncul: transisi. MU terlalu sering mengganti pelatih tanpa fondasi kuat. Setiap pelatih datang dengan ide baru, pemain baru, dan sistem baru.
Ketika belum matang, ia pergi. Siklus ini berulang. Mourinho, Solskjaer, Ten Hag, Amorim, nama berganti, penyakit tetap sama.
Fans pun lelah. Setiap laga bukan lagi soal optimisme, tapi soal kecemasan. Deg-degan sejak menit pertama. Bukan takut kalah dari tim besar, tapi khawatir terpeleset melawan tim papan bawah.
Ini ironi bagi klub sebesar Manchester United.
Bandingkan dengan era Sir Alex Ferguson. Saat itu, MU bertanding dengan aura tak terkalahkan. Lawan sudah setengah kalah sebelum kick-off. Fans tenang. Yang dipikirkan hanya selisih gol. Kini? Bertahan saja sudah syukur.
Kepergian Amorim seharusnya menjadi alarm keras bagi manajemen. Masalah MU bukan hanya pelatih. Struktur klub rapuh. Rekrutmen tak terarah. Pemain datang tanpa kecocokan sistem. Ego lebih besar dari visi.
BACA JUGA:Ruben Amorim Resmi Dipecat Manchester United Usai Konflik Internal

Mini Kidi--
Kini Darren Fletcher ditunjuk sebagai caretaker. Bebannya berat, meski statusnya sementara. Ia membawa DNA MU. Pernah juara. Pernah berjuang.
Tapi nostalgia saja tak cukup. Fletcher butuh dukungan penuh, bukan sekadar tambalan waktu.
MU butuh reset total. Bukan hanya di pinggir lapangan, tapi juga di ruang rapat. Klub ini harus berhenti bereaksi dan mulai merencanakan.
Pelatih baru nanti harus diberi waktu, kewenangan, dan struktur yang jelas. Tanpa itu, siapa pun yang datang hanya akan jadi korban berikutnya.
Sepak bola adalah proses. MU terlalu lama menginginkan hasil instan. Amorim hanyalah satu bab dari buku panjang bernama kegagalan transisi.
Jika tak belajar, halaman berikutnya akan sama saja.
Old Trafford masih berdiri megah. Sejarah tetap mengilap. Tapi tanpa arah yang jelas, kejayaan hanya akan tinggal cerita.
Dan fans? Mereka hanya ingin satu hal sederhana: menonton MU tanpa rasa takut.
Sumber:

